Kamis, 08 Desember 2016

My Future Husband


Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, dan “November”. Kelihatan sih masih lumayan lama, tapi tapi tapi times fly so fast. Enam bulan itu setengah tahun, eh maksudnya enam bulan itu keitung cepet banget buat nyiapin perkakas ini itu dan sanak saudaranya, tapi yang terpenting kebutuhan pokoknya udah kepegang dulu. And you know lah kalimat pembuka ini merujuk tentang apa. Yup, and now I will tell you about my lovely future husband yang akan jadi suamiku beneran kurang lebih enam bulan lagi.

Dia punya nama Agus Tri Setyo Wicaksono. Di lihat dari namanya jangan mengira dia lahir bulan Agustus. Bukan, dia bukan kelahiran bulan Agustus kok, tapi kelahiran bulan Mei, 25 tahun silam.

Orangnya gimana yaaa, ehmm dia punya perut yang elastis, bisa menampung berbagai macam makanan dalam sekali waktu, tapi mungkin juga di perutnya sedang memelihara hewan naga kali yaa, makan sebanyak apapun tetep kurus kurus aja badannya yaa cuma perutnya doang yang offside sih. Dia suka badminton malam-malam. Suka banget sama yang namanya kaget. Apa lagi yaa? Aku masih belum banyak tahu tentang dia, but as soon as juga bakalan tau kebiasaan dia sehari-hari.

Dulu kami melewati masa perkenalan cuma sekitar kurang lebih satu bulan, dengan sedikit kesan perkenalan awal yang tidak pas waktunya. Lalu kami memutuskan untuk menjalin relationship without long distance. Ngomong-ngomong awal mula aku tertarik padanya karena dia itu agak sedikit berbeda dengan laki-laki lain. Bukannya ingin mengenal lebih jauh tentang wanita yang di dekatinya, dianya malah asik dan bangga bercerita dari Sabang sampai Merauke tentang kegiatan perkuliahannya, tentang pengalaman-pengalaman penelitiannya dan sejenis cerita-cerita macam itu lah. Meskipun aku nggak begitu paham, efek dari akunya yang kurang aktif dalam dunia perkuliahan dulu tapi entah kenapa seneng aja denger dia cerita ngalor ngidul seperti itu. Ekspresinya itu lho yang bikin gemes gregetan gimana gitu.

Then, enam bulan kemudian lebih tepatnya bulan Maret lalu diikatlah hubungan kami dengan disaksikan kedua pihak keluarga untuk menuju ke ikatan yang paling resmi nan halal. Ternyata di tembak sama Bapaknya itu lebih bikin senam jantung dibanding sama anaknya dulu. Statusnya naik satu tingkat dari kata pacar menjadi husband and wife to be. Cepet? Iya memang, kalau lebih cepat lebih baik ngapain juga diperlama.

Bytheway, anyway, busway, sekarang kalau lihat orang menikah jadi deg-deg an. Iyalah deg-deg an, gimana nggak deg-deg an lha orang hidup kok, kalau nggak deg-deg an kan gawat. Tapi dibalik itu semua lebih dari rasa kecemasan yang timbul, aku pribadi sih merasakan demikian, entahlah kalau dia gimana. Rasa cemas tentang bagaimana acaranya besok, apakah lancar sesuai dengan yang direncanakan. Tapi tapi tapi sebagian rasa cemas yang muncul tentang bagaimana kehidupan setelah pernikahan itu sendiri. Banyak sekali pertanyaan dan kekhawatiran, itu dikarenakan aku sebelumnya belum pernah menikah, hahaha. Hanya saja lebih sering dapat cerita tentang kehidupan pasca menikah. Banyak yang bilang bahwa kehidupannya tidak mudah, berat, dan nggak seenak yang dibayangkan. But I wanna try and do it.

Kalo kata bang Kariz, salah satu penulis favoritku, “Beritahu aku bila salah, tuntun aku menjadi benar. Jangan pergi, tetaplah di sini, lalu mari kita sama-sama belajar lagi.” Intinya mengarungi bahtera rumah tangga yang kata orang ribet kalau cari yang sederhana itu yaa rumah makan hahaha, yaaa harus dilandasi rasa yang legowo, legowo untuk tidak egois, legowo untuk mengerti pasangan, dan legowo untuk belajar bersama-sama. Karena because itu that, hahaha bercanda, karena tidak ada sekolah atau tempat kursus untuk mengurus rumah tangga yang ideal dan menjadi suami-istri yang baik.

To be continued.
Ah ternyata aku meninggalkan ketikan ini beberapa bulan yang lalu dikarenakan entahlah yang jelas jadi seksi sibuk dan ada aja yang harus dikerjakan sampai ketikan ini terbengkalai, ah lebay.
Ehmm ndak terasa sekarang udah berada di titik awal bulan november, dan semoga menjadi OUR LOVEMBER, di aamiin in yaaa.

BeTeWeh omong-omong tentang persiapan selama kurang lebih enam bulan belakangan ini, ada aja hal-hal yang tidak sesuai dengan ekspetasi yang sangat sangat berhasil membuat kepala pening dan tak lewat juga buat nangis karena rasanya benar-benar capek dan tertekan. Dari dia yang dipindah kerjakan di Jogja, dari hal-hal sepele yang jadi masalah kaya undangan yang masih ada salah pengetikan berbeda dengan revisi terakhir, dari kain seragaman yang lunturlah yang kuranglah jadi harus pesen lagi, dari poto ala ala prewedd yang lumayan bikin runyem juga, dari rias make up yang kurang bikin srek tapi aku ya sudahlah pasrah masalah rias ini mau di oret-oret model gimana yang jelas ndak mungkin berubah cantik bak Mbak Dian Sastro, dari cincin kawin yang ganti lagi untuk berubah wujud tapi tetep aja tidak sesuai dengan ekspetasi dia, dan masih buanyak rentetan hal-hal yang sebenarnya sepele tetapi cukup menyita tenaga buat berdebat. Mintaku cuma satu, semoga sampai harinya nanti dilancarkan dan dimudahkan semuanya ya Allah. Dan diambil positif nya aja mungkin kurang lebih seperti inilah kelak rasa rumah tangga itu. Ada pahit-pahitnya gitu.

Semakin kesini semakin mengenal sosok calon idaman imamku ini. Makan banyaknya sih masih sama cuma nambahnya itu lho alhasil semakin banyak perut dia menampung makanan, dan dianya jadi agak gendutan. Tapi untuk keanehannya sih tetep dan sangat sangat bikin gregetan kagak tau mau diapain. Ada nih satu contoh, di WA “Jogja masih ujan?” dan di bales “udah”. Just it, jadi so aku harus gimana gitu. Kagak tau apa mungkin emang dianya lagi bener-bener sibuk jadi kagak fokus bales chatnya, atau gimana entahlah tapi hal macam seperti ini sering sering sering pake banget terjadi. Dan terlebih lagi hal yang bener-bener aku ndak suka dari dia itu, yaaa dia selalu ngasih aku kesempatan untuk memutuskan segalanya, dianya cukup ngikut apapun yang aku putuskan tapi kalau hasilnya tidak sesuai dengan ekspetasinya, gerutunya yang berkolaborasi dengan nada menyesal dan “sambat”nya itu bener-bener rasanya bikin pengen nangis, sedih, sebel, frustasi eh ndak deng, dan bingung. Kurang lebih itulah tambahan ilmu pengetahuan tentang dia.

Tapi yang jelas ada satu warning yang jangan sampe lupa yaitu jangan sebel sama dia waktu dia kelaperan yang lagi berduet dengan capek, yang ada akunya yang di sebelin balik sama dia.


I think its enough, hahahaha. Maksud udahan dulu yee, kapan-kapan lanjut lagi ngetiknya. Karena because itu that, eh bercanda mulu nih. Deeeeeeee bye bye. To be continued . . . . .

Senin, 27 Januari 2014

APA ADANYA

Kembali lagi timeline seru karna ngebahas tentang CINTA. Hehehe ini topik yaaa, never ending hot nyaaaa ^^
Kamis malam kemarin saya membahas tentang APA ADANYA bersama pasangan via akun @TweetNikah. Aseli ruamee! Semuanya berawal dari prinsip, “Terima aku Apa Adanya..” 
Ada yang setuju, ada yang tidak.. Jawabannya beragam. Akhirnya saya bahas menurut ilmu yang sudah saya dapat dari pakar pernikahan. Indra @noveldy dan tentu berdasarkan pengalaman sendiri.
Bismillahirrahmaanirrahiim…
Banyak gak di antara kita yang punya beragam janji manis sebelum menikah?
Kamu gak bisa masak gak apa-apa, aku terima kamu apa adanya…
Kamu gak bisa nyetir gak apa-apa, aku terima kamu apa adanya..
Kamu sering kerja sampai malam gak apa-apa, aku terima kamu apa adanya..
Kamu pelupa, aku terima kamu apa adanya…

Dan pemakluman lainnya yang terasa indah ketika belum menjalani pernikahan kayak apa sebenarnya.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan, satu tahun… Mungkin akan tahan dan tetap berprinsip, “Aku terima kamu apa adanya…”
Seumur hidup??? Ya kelessss… Ya kali deh.
That’s quotes is bullshit, fellas!
Ternyata jiwa dan pikir kita gak akan segitunya tahan sama kekurangan pasangan. Pasti ada rasa kecewa, ah manusiawi sekali itu mah. Pada dasarnya setiap manusia selalu ingin dikelilingi oleh kesempurnaan versi dia. Hingga akhirnya ada bisik jiwa yang protes dengan keadaan yang ada.
Kita nikah sama pasangan seumur hidup, bro… Hanya bercinta dengan kelebihannya saja juga tidak wajar adanya. Daaaaan mencintai kekurangan dengan hanya menerima apa adanya juga bukan pilihan yang bijak.
Pernikahan adalah perjalanan kita dengan pasangan menuju kesempurnaan. Jadi yaaa jangan ngarep terima apa adanya bakal jadi prinsip sampai tua. Gak akan tahan.
Justru dengan menikah kita akan masuk dalam proses menjadi sempurna. Yang biasanya gak pernah masak jadi suka masak. Yang biasanya males gerak, jadi banyak karyanya. Dan hal lain yang membuat kita belum bisa melakukan jadi terbiasa.
Butuh proses yang luaaaamaaaa untuk menumbuhkan kebiasaan baru dalam diri kita. Berterima kasihlah pada pasangan yang selalu sabar menunggu proses itu membuahkan hasil.
Nah, kalau urusan mengubah sikap pasangan emang jangan diharapkan secara berlebihan. Udah fokus aja sama apa yang bisa kita lakukan.
Saya itu gak biasa masak sebenernya. Bisa tapi gak biasa. Jadi refleks untuk masaknya yaaa lemot aja. Awal nikah sih gak gitu kerasa. Tapi lama-lama yaa ganggu juga kalau saya gak punya jiwa masak. Masa seumur hidup harus makan di luar? Harus beli dari luar? I don’t think so.. Jadi yaaa saya juga sekuat tenaga untuk belajar membiasakan diri punya refleks nyiapin masakan. Susah banget loh itu ternyata. Sampe bikin penyesalan sendiri, kenapa gak dari duluuuu dibiasainnya.
Tapi yasudahlah.. Alhamdulillah kan abis nikah jadi tau, ngerti, dan paham kalau bisa masak dan jadi kebiasaan itu harus. Apalagi kalau udah punya anak. Gak mungkin jajan terus di luar.
Itu salahsatu contoh tentang terima aku apa adanya yang tidak bisa bertahan sepanjang usia pernikahan.

Ada yang harus diperbaiki dalam diri kita. Karena itu memang fungsinya pernikahan. Menjadikan kita sempurna dengan proses yang terjadi di dalamnya ^^

source : http://achiisurachii.wordpress.com/2013/12/08/apa-adanya/

Sabtu, 25 Januari 2014

Surat untuk Ibu Negara

Surat terbuka kepada ibu negara yang berjudul “Instagram untuk Ani Yudhoyono dari Vita Sinaga-Hutagalung Korban Sinabung”, pada awalnya di-posting pada layanan situs Kompasiana dengan link : http://politik.kompasiana.com/2014/01/19/instagram-untuk-ani-yudhoyono-dari-vita-sinaga-hutagalung-korban-sinabung-628903.html .

Namun artikel yang ditulis oleh akun Ninoy N Karundeng (terverfikasi) itu tiba-tiba dihapus oleh pihak Kompasiana.
Berikut isi Surat Tersebut:
Instagram untuk Ani Yudhoyono dari Vita Sinaga-Hutagalung Korban Sinabung
Yth. Ibu Ani Yudhoyono, nama sahaya Vita Sinaga-Hutagalung, satu dari puluhan ribu korban letusan Gunung Sinabung yang letaknya di Sumatera, bukan di Jogjakarta atau Magelang. Sahaya ingin sekali menuliskan dan melukiskan Sinabung lewat jepreten tustel seperti Ibu Ani lewat telegram, eh, Instagram. Atau melukiskan keindahan derita Sinabung dengan mengabadikan jepretan kamera dan menampilkan di Instagram. Namun, apa daya. Kami para pengungsi tak memiliki apa-apa lagi.
Ibu Ani yang cantik jelita bulat mukanya, surat ini sahaya tuliskan menjelang kedatangan Bapak Susilo Bambang Yudhonono – suami dan presiden Ibu Ani ke Tanah Karo. Sahaya dengar dan yakin Ibu Ani sangat berperan menentukan kebijakan negara Indonesia, sama halnya para koruptor yang selalu disetujui dan didukung oleh para isteri mereka. Sahaya dengar dari wartawan yang selalu datang ke mari selama enam bulan ini, bahwa Ibu Ani aktif sekali di dunia maya ya Ibu Ani. Kata para wartawan Ibu Ani hobby sekali main Instagram, Twitter dan Facebook.
Ibu Ani yang cantik bulat menarik hati, katanya Ibu bahkan senang sekali mengabadikan apapun. Bahkan bisa juga Ibu Ani ribet mengurus Instagram dan main tustel. Itu adalah aktivitas sangat positif sebagai Ibu Negara. Aktivitas Ibu Ani bermanfaat untuk bangsa dan negara Indonesia. Di situlah kedekatan rakyat sampah jelata dengan para pejabat dan istri pejabat tinggi yang menjulang ke langit ketujuh dapat terjembatani.
Ibu Ani, dengan aktivitas Ibu Ani di Istagram, maka kami sebagai korban Gunung Berapi Sinabung telah tertolong. Dengan melihat kebahagiaan Ibu Ani, Anissa Pohan – yang menjuluki Ibu Ani sebagai mertua terbaik di dunia dan akhirat, cucu-cucu yang cantik dan gagah menarik, Ibas yang berenang dengan baju mau menyelam padahal di kolam renang dangkal, lalu ke pantai dengan memakai batik resmi, itu pertunjukan yang mampu memberikan kebahagiaan buat kami.
Ibu Ani, kami para pengungsi tak membutuhkan apapun selain gambar-gambar di Instagram. Kami tak butuh tanah pertanian yang telah rusak untuk direhabilitasi. Kami tak butuh makanan. Kami tak butuh obat-obatan. Kami tak butuh selimut. Kami tak butuh pembalut wanita. Kami tak butuh pakaian. Kami tak butuh tempat tinggal karena tempat tinggal kami ya di 59 tempat pengungsian selama enam bulan ini. Kami pun tak butuh apa-apa selain melihat dan menonton foto-foto kebahagiaan Ibu Ani sekeluarga melalui Instagram. Instagram Ibu Ani adalah kebahagiaan kami.
Ibu Ani yang cantik jelita dengan muka bulat sempurna. Dari muka Ibu kami tahu Ibu adalah orang paling baik di Bumi, Langit dan Surga nanti. Untuk itu, kami sebagai warga negara merasa puas dan senang berbagi melihat kebahagiaan keluarga Ibu Ani. Sementara di pengungsian ini, kami selama enam bulan, merasakan kurang makan, kurang tidur, kurang nyaman dan kurang kebahagiaan – namun sekali lagi, melihat kebahagiaan keluarga Presiden RI, kami sudah kenyang dan berbahagia. Sudah selayaknya sahaya dan rakyat melayani pejabat dan orang besar serta penguasa. Maka, biarkanlah kami di Tanah Karo dan Sinabung menikmati pengorbanan sebagai hamba kepada penguasa.
Ibu Ani yang terhormat, bolehlah sahaya pesankan kepada Ibu agar memberi tahu Bapak Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhyono, suami Ibu yang besar badannya itu, untuk (1) jangan menetapkan bencana Sinabung sebagai bencana nasional, agar kami tak mendapatkan bantuan berskala nasional, (2) jangan kami diberi bantuan apapun karena kami bangsa Indonesia dan Batak akan pergi ke saudara-saudara kami untuk mencari kehidupan – itu yang banyak diperhatikan bahwa bangsa Batak memiliki kekuatan sendiri, (3) biarkan kami tetap di pengungsiaan selama-lamanya, (4) jangan Ibu Ani hentikan kegiatan main tustel, kamera standard professional seharga Rp 250 juta, untuk menampilkan foto-foto Ibu Ani, Annisa Pohan – anak koruptor bernama Aulia Pohan – dan juga cucu-cucu dan anak-anak tercinta, karena foto-foto Instagram Ibu Ani adalah kebahagiaan bagi kami semua: warga pengungsi yang tak memiliki apa-apa selain air mata.
Ibu Ani yang terhormat, demikian surat Instagram kami. Karena kami tak tahu Istagram itu apa maka mohon maaf yang sahaya tahu adalah telegram di kampung kami dulu. Sahaya pikir dengan menulis Instagram ini, yakni istagram tanpa foto karena tak memiliki tustel, maka pesan yang sahaya sampaikan rasanya sampai. Kami warga korban gunung berapi hanya membutuhkan gambar-gambar yang indah hasil jepretan Ibu Ani di Instagram. Kami di pengungisan sudah puas dan bahagia meskipun kami sakit, kurang makan, kurang pakain, tak memiliki tempat bekerja karena pertanian kami hancur, anak-anak mahasiswa kami sebanyak 25,000 terancam tak bisa bayar uang kuliah dan makan, namun itu semua tak penting. Yang penting kami menonton foto-foto Instagram Ibu Ani sekeluarga yang berbahagia. Itulah rentetan nestapa duka derita sengsara kami selama enam bulan letusan Gunung Sinabung paling dalam yang Ibu tak pernah pikirkan – sama dengan suamimu dan para menteri yang sibuk nyaleg lagi.
Salam bahagia ala saya Ibu Ani Yudhoyono yang cantik jelita bulat sempurna.

source: http://whatanews.net/surat-terbuka-korban-sinabung-kepada-ibu-negara-yang-dihapus-oleh-kompasiana/

Selasa, 14 Januari 2014

Jawaban Polos nan Lucu Khas Anak-Anak

1. Menemukan "x"

Dalam pelajaran pythagoras , biasanya kita diminta mencari panjang salah satu sisi segitiga. Diibaratkan sebagai 'x' dan meminta anak-anak menghitung berapa jumlahnya.
Lucunya anak yang satu ini dengan polosnya melingkari dan menunjuk huruf x di salah satu sisi. Menganggap bahwa inilah jawaban yang benar menurutnya. Well, memang tidak salah juga kan.

2. Tak terhingga
Dicontohkan dalam salah satu pertanyaan yang akan diajukan, bahwa ternyata memang jumlah akhirnya tak terhingga, dilambangkan dengan karakter yang mirip dengan angka 8 yang sedang tidur.
Dan karena sudah diberi contoh demikian, di jawaban pertanyaan selanjutnya, angka 5 dibuat tidur. Apakah jawaban ini salah? Tentu saja, tetapi logika si anak ini cukup diacungi jempol.

3. Menjabarkan
Menjabarkan variabel bukanlah salah satu pelajaran yang menyenangkan, dan inilah yang dilakukan seorang anak bernama Peter saat menjabarkan variabel.
Yeap, ia membuat setiap variabelnya semakin jauh jaraknya.

4. Mengubah
Ketika menjawab pertanyaan, anak-anak punya berbagai logika dan solusi terhadap pertanyaan tersebut. Seperti ini salah satu contohnya, di mana seorang anak diminta mencari tahu apa yang harus dilakukan untuk mengubah centimeter ke meter.
Sederhana, si anak menjawab dengan "coret saja kata centinya"

Cerdas, nak! 

5. Letaknya di bawah
Saat diminta untuk memberi tanda tangan, tentunya Anda akan memberi tanda tangan sebuah dokumen di bagian bawah. Di mana di sana ada jabatan dan nama terang. Dan hal itu ternyata menjadi sesuatu yang dihafalkan oleh anak-anak.
Ketika ditanya di mana dokumen deklarasi kemerdekaan Amerika ditanda tangani, ia tidak menyebutkan kota atau gedung apapun. Ia menjawabnya dengan polos, "tanda tangannya terletak di bawah"

6. Cicin romantis
Anak-anak juga pengamat yang cerdas soal hubungan pria dan wanita. Dan tentunya hal ini tidak boleh diremehkan begitu saja.
Saat ada pertanyaan soal cincin planet Saturnus, anak-anak membayangkan cincin yang sama seperti yang dipakai orang tuanya, sebagai tanda cinta.
Jadi tidak salah kalau seorang anak menjawab cincin Saturnus sebagai bukti tanda cinta Tuhan pencipta alam semesta.

7. Atau
Seorang guru memang hendaknya lebih cerdas daripada muridnya ketika mengajarkan atau membuat suatu pertanyaan. Dan hendaknya guru juga bisa menghargai logika jawaban murid-muridnya atas pertanyaan yang ia berikan.
Seperti salah satu jawaban unik ini, di mana seorang guru meminta anak menuliskan lebih besar atau lebih kecil, dan ternyata malah si anak menuliskan or/ atau di tengah-tengahnya, tepat seperti contoh.





Lirik Lagu NO DOUBT - Don't Speak



You and me
We used to be together
Every day together always
I really feel
I'm losing my best friend
I can't believe
This could be the end
It looks as though you're letting go
And if it's real,
Well I don't want to know

CHORUS:
Don't speak
I know just what you're saying
So please stop explaining
Don't tell me 'cause it hurts
Don't speak
I know what you're thinking
I don't need your reasons
Don't tell me 'cause it hurts
Our memories
They can be inviting
But some are altogether
Mighty frightening
As we die, both you and I
With my head in my hands
I sit and cry
#BACK to CHORUS
It's all ending
I gotta stop pretending who we are...
You and me
I can see us dying ... are we?
#BACK to CHORUS


Lirik Lagu Hingga Ujung Waktu - S07

Serapuh kelopak sang mawar
Yang di sapa badai berselimutkan gontai
Saat aku menahan sendiri di terpa
Dan luka oleh senja ...
Semegah sang mawar di jaga
Matahari pagi bermahkotakan embun
Saat engkau ada di sini dan pekat
Pun berakhir sudah
Akhirnya aku menemukanmu
Saat ku bergelut dengan waktu
Beruntung aku menemukanmu
Jangan pemah berhenti memilikiku
Hingga ujung waktu. . .

Setenang hamparan samudra
Dan tuan burung camar
Takkan henti bernyanyi
Saat aku berkhayal denganmu
Dan janjipun terukir sudah

Jika kau menjadi istriku nanti
Pahami aku saat menangis
Saat kau menjadi istriku nanti
Jangan pemah berhenti memilikiku
Hingga ujung waktu

Jika kau menjadi istriku nanti
Pahami aku saat menangis
Saat kau menjadi istriku nanti
Jangan pemah berhenti memilikiku
Hingga ujung ... Waktu


Senin, 30 Desember 2013

" cabe - cabean "

Apa itu "Cabe-cabean?"

menurut gue jaman udah makin kacau aja yah, gue gak ngerti ? jangan tanya gue oke. sebelum ke cabe cabean gue pengen kasih tau dulu ke lo semua, sebelum kata cabe cabean ini fenomenal udah pernah ada yang fenomenal duluan kalian tau apa " ALAY "waktu gua SD belum ada nih kata kata ALAY , gak ada , jaman jaman gua SMA aja baru muncul kata alay , gue gak tau siapa yang mencetuskan kata ALAY pertama kali , sampe bumingnya keteraluan gitu . gak tau gue siapa pencetus alay pertama kali. jadi kalian gak usah tanya gue.
sesudah kata alay, jaman sekarang banget ini, di masa perkuliahan gue, gue diperkenalkan dengan kata " CABE CABEAN " beuuhhh akhir akhir lagi heboh banget sama kata " cabe cabean " , sumpah gue gak ngerti banget apa itu maksud dari kata cabe cabean . why cabe ? kenapa gak terong terongan, timun timunan, lengkoas lengkoasan, KENAPA HARUS CABE ??KENAPA ??

jadi gini awal mula pertama gue denger kata "cabe cabean" itu di kelas, waktu gue lagi kuliah, waktu temen gue ka anis nyeplos gitu " ahh lu jangan pada kayak cabe cabean dah", gue bingung dong, gue bukan anak gaul yang tau semua kostak kata atau artian artian gue ini cupu, you know ? , ya otomatis gue langsung tanya " hahaha cabe cabean apa'an si ka ?" dia cuma nyengir, ya karna menurut gue kata cabe cabean itu gak penting untuk gue tau artinya, yaudah gue abaikan, tapi keesokan harinya kata " cabe cabean " diucapkan lagi dan lagi, itu ngebuat gue semakin kepo apa'an si cabe cabean ?? akhirnya gue nanya ama temen sekelas gue yang gaulnya bagus ketimbang gue sebut saja putri .
" put, cabe cabean apa'an si ? "
" itu loh jeng anak anak cewe genit jaman sekarang "
langsung aja gue " oohhhh cewe genit, yaelah dasar cabe cabean"

semenjak itu hari gue berubah, gue jadi lebih dermawan karna tiap hari gue #prayforcabecabean << hesteknya @young_lexx :)) ditambah lagi setiap hari gue makin kepo sama anak cabe cabean. anak twitter pun sering menyebut kata " hahaha kayak cabe cabean jaman sekarang luh " atau seperti twitt dibawah pict ini :


akhirnya gue menemukan pencerahan gue di pertemukan dengan videonya bang @Young_Lexx di youtube , asli gua ngakak liatnya . sekarang gue ngerti cabe cabean itu yang kayak gimana.

|| dari tadi ngomongin kata cabe cabean mulu, jadi sebenernya cabe cabean itu kayak gimana si jeng ??? ||

iya santai dong ini baru mau gue bahas. gue ngereview lah yah bisa dibilang dari videonya bang @Young_Lexx , disini akan gue jelasin 5 kategori cabe cabean . langsung aja cekidottt>>>>


1. biasanya cabe cabean itu cewek pake BEHEL
gue gak tau yah behel ini kan udah tenar dari gue masih duduk di bangku SMA kelas 2, sekarang gue udah kuliah walaupun baru semester 1 , fenomena behel masih saja di sangkut sangkutkan, dulu katanya " yang pake behel ALAY ", berrevormasi menjadi " yang pake behel GAUL " eh sekarang " yang pake BEHEL cabe cabean " , iya si emang pake behel mending kenapa gitu giginya. ya ini CUMA BUAT GAYA DOANG, mana pasang behelnya bukan di dokter gigi, malah sangkin ngebetnya dia beli behel yang 35 50 han. jadi gue SETUJU aja cewek pake behel buat gaya gayaan masuk ke kategori pertama cabe cabean.

2. biasanya cabe cabean itu kalo malem minggu make up, udah make up abis abisan ujung ujungnya BELI BUBLE , haduh pliss deh beli buble aja pake make up , orang mah kalo pake make up mau ke kondangan, moll.  haduh plis deh kalo mau beli buble itu gak usah pake make up, kalo beli buble aja pake make up itu FIX FIX FIX cabe cabean.

3. biasanya cabe cabean itu BONCENG 3, celana pendek ( celama gemes ) , malah pernah gue liat bonceng 4 dempet dempetan kaya rantang, eh tapi bentar DULU yah DULU banget sebelum ada kata ALAY sama CABE CABEAN gue sering loh bonceng 4 kalo mau silatuhrami kerumah sodara-sodara gue selalu ceng'4 : bokap gue, nyokap gue, adek gue, dan gue . sorry bro dulu gue belom punya mobil jadi kendaraan paling berkeluarga yaitu motor dan DULUnya gue belom bisa naek motor, jadi FIX kalo itu bukan termasuk cabe cabean . lo tau lah yang dimaksud cabe cabean bonceng 3 itu gimana. 

4. cabe cabean biasanya kalo malam minggu pacaran di jembatan flay over men , itu parah, gue gak ngerti kenapa mereka pacaran di atas gembatan gitu, padahal kan mereka pacaran bisa , nonton bioskop, makan , maen bowling, maen timezone .gue gak ngerti kenapa mereka pacaran di jembatan kayak gitu antara gak punya duit atau irit atau apalah gue gak tau. 
gini nih cabe cabean :))

5. cabe cabean itu gak terima keadaan , dan semua berubah semenjak adanya kamera 360 , pertemanan jadi rusak , misal lo temenan gitu yah di facebook atau di twitter atau di sosial media lainnya, avatarnya cakep gilak, kecee gilak eh pas ketemuan lo dapet ZONK , jadi itu semacam penipuan , penipuan foto, kata bang yonglex juga seharus itu di masukan ke pasal penipuan foto . itu parah, pertemanan jadi rusak kacau balau.  semua menjadi indah karena efek kamera 360 .

oke segitu dulu pembahasan gue tentang cabe cabean, udah pada ngertikan cabe cabean itu yang kayak gimana , dan kategorinya kayak apa.OKE segitu aja kategori kategori cabe cabean, karna gue takut blog gue kepanjangan jadi nantinya takut gak bisa di publish :D sebenernya ada 10 yah kategori cabe cabean ala bang yong lexx itu , kalo kalian mau liat lebih jelasnya bisa tonton video di bawah ini. ini videonya bang @young_lexx yang ngebahas tentang cabe cabean seperti yang gue bilang diatas . oke sekian terimakasih :3



Jumat, 29 November 2013

Lo Siaw Ging: Dokter Tanpa Tarif

Dokter Lo (Foto: Solografi.com)
Dokter Lo (Foto: Solografi.com)
Nama lengkapnya Lo Siaw Ging, namun ia lebih dikenal dengan panggilan dokter Lo. Di Solo, Jawa Tengah, dokter keturunan Tionghoa berusia 78 tahun ini populer bukan hanya karena diagnosa dan obat yang diberikannya selalu tepat, tapi juga karena ia tidak pernah meminta bayaran dari pasiennya.
Setiap hari, kecuali Minggu, puluhan pasien antre di ruang tunggu prakteknya. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai tukang becak, pedagang kaki lima, buruh pabrik, karyawan swasta, pegawai negeri, hingga pengusaha. Pasiennya tidak hanya datang dari Solo, tetapi juga kota-kota di sekitarnya, seperti Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, Boyolali, Klaten, dan Wonogiri.
Dokter Lo menjadi istimewa karena tidak pernah memasang tarif. Ia juga tak pernah membedakan pasien kaya dan miskin. Ia justru marah jika ada pasien yang menanyakan ongkos periksa padahal ia tidak punya uang. Bahkan, selain membebaskan biaya periksa, tak jarang Lo juga membantu pasien yang tidak mampu menebus resep. Ia akan menuliskan resep dan meminta pasien mengambil obat ke apotek tanpa harus membayar. Pada setiap akhir bulan, pihak apotek yang akan menagih harga obat kepada sang dokter.
Perlakuan ini bukan hanya untuk pasien yang periksa di tempat prakteknya, tapi juga untuk pasien-pasien rawat inap di rumah sakit tempatnya bekerja, RS Kasih Ibu. Alhasil, Lo harus membayar tagihan resep antara Rp 8 juta hingga Rp 10 juta setiap bulan. Jika biaya perawatan pasien cukup besar, misalnya, harus menjalani operasi, Lo tidak menyerah. Ia akan turun sendiri untuk mencari donatur. Bukan sembarang donatur, sebab hanya donatur yang bersedia tidak disebutkan namanya yang akan didatangi Lo.
“Beruntung masih banyak yang percaya dengan saya, ” kata dia.
Di mata pasien tidak mampu, Lo memang bagaikan malaikat penolong. Ia  menjungkirbalikan logika tentang biaya kesehatan yang selama ini sering tak terjangkau oleh pasien miskin. Apa yang dilakukan Lo juga seperti membantah idiom “orang miskin dilarang sakit”.
“Saya tahu pasien mana yang mampu membayar dan tidak.  Untuk apa mereka membayar ongkos dokter dan obat kalau setelah itu tidak bisa membeli beras? Kasihan kalau anak-anaknya tidak bisa makan, ” kata dia.
Gaya bicaranya tegas cenderung galak. Tidak jarang ia memarahi pasien yang menganggap enteng penyakit. Ia bercerita pernah benar-benar sangat marah kepada seorang ibu karena baru membawa anaknya ke ruang prakteknya setelah mengalami panas tinggi selama empat hari.
“Sampai sekarang masih banyak orang yang bersikap seperti itu. Memangnya penyakit itu bisa sembuh dengan sendirinya. Kalau sakit ya harus segera dibawa ke dokter. Jangan melakukan diagnosa sendiri, ” ujar anak ke 3 dari 5 bersaudara itu.
Toh meski galak, Lo tetap dicintai. Ia menjadi rujukan berobat terutama bagi mereka yang tidak  mampu. Namun dokter lulusan Universitas Airlangga Surabaya ini merasa apa yang ia lakukan bukan sesuatu yang luar biasa dan tidak perlu dibesar-besarkan.
“Tugas dokter itu menolong pasiennya agar sehat kembali. Apa pun caranya. Saya hanya membantu mereka yang membutuhkan pertolongan dokter. Tidak ada yang istimewa, ” ujar dokter yang buka praktek di rumahnya, Kampung Jagalan, Jebres, Solo.
Dokter Sederhana
Lahir di Magelang, 16 Agustus 1934, Lo tumbuh dalam sebuah keluarga pengusaha tembakau yang moderat. Orang tuanya, Lo Ban Tjiang dan Liem Hwat Nio, memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih apa yang dinginkan. Salah satunya adalah ketika Lo ingin melanjutkan SMA ke Semarang, karena dia menganggap tidak ada SMA yang kualitasnya bagus di Magelang ketika itu.
Setamat SMA, Lo menyatakan keinginannya untuk kuliah di kedokteran. Ketika itu, ayahnya hanya berpesan jika ingin menjadi dokter jangan berdagang. Sebaliknya jika ingin berdagang, jangan menjadi dokter. Rupanya, nasehat itu sangat membekas di hati Lo. Maksud nasehat itu, menurut Lo, seorang dokter tidak boleh mengejar materi semata karena tugas dokter adalah membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Kalau hanya ingin mengejar keuntungan, lebih baik menjadi pedagang. .
”Jadi siapa pun pasien yang datang ke sini, miskin atau kaya, saya harus melayani dengan baik. Membantu membantu orang itu tidak boleh membeda-bedakan. Semuanya harus dilakukan dengan ikhlas. Profesi dokter itu menolong orang sakit, bukan menjual obat, ” ujar suami dari Gan May Kwee ini.
Menjadi dokter sejak 1963, Lo mengawali karir dokternya di poliklinik Tsi Sheng Yuan milik Dr Oen Boen Ing (1903-1982), seorang dokter legendaris di Solo. Pada masa orde baru, poliklinik ini berkembang menjadi RS Panti Kosala, dan kini berganti nama menjadi RS Dr Oen.
Selain dari ayahnya, Lo mengaku banyak belajar dari Dr Oen. Selama 15 tahun bekerja pada seniornya itu, Lo mengerti benar bagaimana seharusnya menjadi seorang dokter.
”Dia tidak hanya pintar mengobati, tetapi juga sederhana dan jiwa sosialnya luar biasa, ” kata mantan Direktur Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo.
Apa yang dikatakan Lo tentang membantu siapa pun yang membutuhkan itu bukanlah omong kosong. Ketika terjadi kerusuhan Mei 1998 lalu misalnya, Lo tetap buka praktek. Padahal para tetangganya meminta agar dia tutup karena situasi berbahaya, terutama bagi warga keturunan Tionghoa. Namun, Lo tetap menerima pasien yang datang. Para tetangga yang khawatir akhirnya beramai-ramai menjaga rumah Lo.
“Banyak yang butuh pertolongan, termasuk korban kerusuhan, masak saya tolak. Kalau semua dokter tutup siapa yang akan menolong mereka?” kata Lo yang juga lulusan Managemen Administrasi Rumah Sakit (MARS) dari Universitas Indonesia.
Hingga kerusuhan berakhir dan situasi kembali aman, rumah Lo tidak pernah tersentuh oleh para perusuh. Padahal rumah-rumah di sekitarnya banyak yang dijarah dan dibakar.
Kini, meski usianya sudah hampir 80 tahun, Lo tidak mengurangi waktunya untuk tetap melayani pasien. Setiap hari, mulai pukul 06. . 00 sampai 08. 00, dia praktek di rumahnya. Selanjutnya, pukul 09. 00 hingga pukul 14. 00, Lo menemui para pasiennya di RS Kasih Ibu. Setelah istirahat dua jam, ia kembali buka praktek di rumahnya sampai pukul 20. 00.
“Selama saya masih kuat, saya belum akan pensiun. Menjadi dokter itu baru pensiun kalau sudah tidak bisa apa-apa. Kepuasan bagi saya bisa membantu sesama, dan itu tidak bisa dibayar dengan uang, ” ujar dokter yang sejak beberapa tahun lalu berjalan dengan bantuan tongkat ini.
Menurut Lo, istrinya memiliki peran besar terhadap apa yang ia lakukan. Tanpa perempuan itu, kata Lo, ia tidak akan bisa melakukan semuanya.
“Dia perempuan luar biasa. Saya beruntung menjadi suaminya, ” ujar Lo tentang perempuan yang ia nikahi tahun 1968 itu.
Puluhan tahun menjadi dokter, dan bahkan pernah menjadi direktur sebuah rumah sakit besar, kehidupan Lo tetap sederhana. Bersama istrinya, ia tinggal di rumah tua yang relatif tidak berubah sejak awal dibangun, kecuali hanya diperbarui catnya. Bukan rumah yang megah dan bertingkat seperti umumnya rumah dokter.
“Rumah ini sudah cukup besar untuk kami berdua. Kalau ada penghasilan lebih, biarlah itu untuk mereka yang membutuhkan. Kebutuhan kami hanya makan. Bisa sehat sampai usia seperti sekarang ini saja, saya sudah sangat bersyukur. Semakin panjang usia, semakin banyak kesempatan kita untuk membantu orang lain, ” kata Lo yang selama 43 tahun perikahannya dengan Gan May Kwee tidak dikaruniai anak.
Di tengah biaya obat-obatan yang mahal, pelayanan rumah sakit yang sering menjengkelkan,  dan dokter yang lebih sering mengutamakan materi, keberadaan Lo memang seperti embun yang menyejukkan. Rasanya, sekarang ini tidak banyak dokter seperti Dr Lo.
Menengok sejarah Solo, yang dalam perjalanan waktu penuh intrik, peperangan dan kerusuhan, Dr Lo bagaikan oase di tengah gurun  nan gersang, (Ganug Nugroho Adi)