Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 November 2012

Bidadari Hujan

 Hujan pun mengiringi kepergiannya. Semua orang yang sayang dia, pasti tahu betapa cintanya dia terhadap sang hujan. Dia sering menari-nari di bawah hujan. Tapi kini dia tak bisa menari-nari seperti biasa, karena dia diam tak bergerak di dalam sana. Dan hanya tinggal aku di sini di temani sang hujan yang menghapus tangisku yang tak tertera.
   * * *
                Ini tahun ke dua ku bersama dia, dan tepat hari ini pula tanggal yang sama di bulan yang sama 2 tahun silam kita berjanji untuk mengikat satu sama lain dalam sebuah ikatan “pacaran”. Duduk berdua di teras, memandangi air hujan yang menari dengan anggunnya.
“Nggak terasa hari ini datang lagi ya.” katanya padaku.
“Datang lagi? Emang ada apaan sih?” aku pura-pura nggak tahu.
            Dengan memasang wajah cemberutnya yang khas, “Masak kamu nggak inget moment penting di hari ini?” Dan aku pun masih pura-pura berpikir.
“Ah aku sebel, pokoknya aku benci kamu!” tandasnya, memalingkan muka.
“Ih, si cantikku ngambek ya, kalau ngambek gitu tambah cantik deh.” rayuku. Tetap tak ada respon. “Ya udah, aku minta maaf ya? Aku inget kok, hari ini hari apa, makanya aku membawa ini." Sambil mengeluarkan kotak kecil berwarna merah hati kesukaan dia.
“Coba liat sini dong. Jangan cemberut mulu napa. Kalo nggak mau liat sini, ya udah deh hadiahnya nggak jadi buat kamu.” Godaku
Akhirnya dia membalikkan wajahnya dan menatapku dengan tatapan tak percaya. Melihat kotak dan melihat wajahku bergantian dengan mata yang berkaca-kaca.
“Apa ini yam?” tanyanya.
Iya, “yam” adalah panggilan sayangnya ke aku katanya sih. Dia lebih suka memanggilku demikian daripada memanggil namaku atau memanggil dengan istilah sayang atau apalah. Karena baginya kata “yam” itu selain simple juga mempunyai arti khusus, yaitu “You And Me” atau “You Are Mine”. Romantis yaa?
Membuka kotak dengan posisi jongkok di depannya dengan satu kaki di tekuk di tanah, aku beranikan diri untuk berkata, “Maukah kamu hidup bersamaku?” kutatap matanya dengan penuh keyakinan. Kulihat pipinya yang bersemu merah dan senyumnya yang menawan.
Ku ulangi perkataanku, “Maukah kamu hidup bersamaku dalam suka maupun duka?”
Dengan malu-malu dia menganggukan kepala dan itu pertanda bahwa dia menerima lamaranku.
“Makasih ya sayang.” Ku cium keningnya lalu mengenakkan cincin pemberianku di jari manisnya.
* * *
Langit nampak redup, tidak cerah. Mungkinkah sedang murung?
“Ah nggak sabar nih, masih 2 hari lagi.” Kataku.
“Yam. . . . .”
“Iya, ada apa cantikku? Kamu sakit?” tanyaku penasaran.
“Eh nggak jadi deng.” Masih menggantung. “Tapi, ehmmm, kamu mau nggak nurutin permintaanku sebelum acara pertunanganku besok lusa?” tanyanya hati-hati.
“Apa itu sayang? Apapun yang kamu minta, aku akan turuti. Janji deh.” Sambil menggenggam tangannya.
“Apapun itu?”
“Ya, apapun.” Tegasku. “Selama aku bisa mengabulkannya.” Tambahku
“Aku ingin tahu, apakah kau tulus sama aku atau tidak . . . .”
“Jadi kamu meragukanku?” memotong perkataannya.
“Enggg . . .gak gitu yam. Cuma saja aku ingin lebih meyakinkan diriku kalau kamu benar-benar cinta dan sayang sama aku.” Katanya hati-hati.
“Baiklah kalau gitu. Percaya sama aku ya cantikku. Kalau gitu coba apa permintaanmu?”
“Aku cuma minta, besok sehari penuh kita nggak komunikasian dulu. Kita nggak SMS-an, kita nggak telepon-teleponan, ataupun kamu nggak boleh datang kerumahku. Gimana, sanggupkan kamu?” tanyanya.
“Kalau itu sih kecil sayang. Aku pasti sanggup kok.” Kukedipkan sebelah mataku dengan genit pertanda setuju.
Tiba-tiba langitpun tak sanggup menampung air yang dari tadi bersembunyi dibalik awan hitam pekat dan menumpahkannya. Seketika dia berlari menuju halaman rumahnya, untuk bermain bersama rintikan hujan, menari. Dan ku lihat senyuman dia yang sangat menawan lebih dari biasanya. Aneh pertanda apakah ini. Padahal, dia juga sering melakukan hal yang sama. Aku tahu dia sangat menggilai hujan. Katanya air hujan itu dapat membuat perasaannya jadi senang, nyaman, dan hangat. Aneh sih, tapi itulah si cantik bidadari hujanku.
* * *
Aku hampir gila. Mungkin tinggal 20% kewarasanku sekarang. Padahal ini baru 12jam aku melakukan tantangannya tanpa komunikasi. No SMS. No telepon. Bahkan bertemupun nggak bisa. Aahhhh, perderitaan apa ini. Uring-uringan sendiri dikamar memang persis membuatku nampak seperti orang gila. Penyakit malarinduku menggerogoti saat ini. Hanya dapat menatap fotonya. Dia tersenyum manis di dalam foto itu. Menari bersama rintikan hujan. Ya, saat itu gerimis di kala senja ketika mengambil foto itu.
“Ah dasar, si cantikku si bidadari hujanku, kau membuatku gila sekarang, betapa aku sangat merindukanmu.” Berbicara dengan sosok yang ada di dalam foto.
“Mungkin kamu sekarang sedang sibuk mempersiapkan pertunangan kita besok kan?” Mungkin aku sudah gila beneran nih. “Aku pasti bisa melewati 24 jam ini. Tunggu aku ya cantik.”
  * * *
“Akhirnya hari ini telah datang juga.” Kataku pada matahari pagi. “Siap-siap untuk bertemu si bidadari hujanku.”
Selesai mandi, tiba-tiba, dok . . . dok . . . dok . . .
                “Siapa?” tanyaku.
                “Ini Ibu nak. Ibu boleh masuk?”
                “Iya bu, masuk aja. Pintunya nggak kekunci kok.” Kataku sambil berpose didepan kaca.
                “Nak, kamu nggak papa kan? Mungkin memang ini sudah jalannya.” Isak Ibu didepanku.
                Hah? Ada apa sih ini. Kok Ibu nangis di depanku. Emang ada apa. Aku masih belum jelas. Bingung. Kaget. Campur aduk jadi satu.
  * * *
                Ini lah rumah yang selama ini selalu ku kunjungi. Tetapi ada sesuatu hal yang berbeda dari biasanya. Tak ada teriakan ceria memanggil namaku dari seorang gadis cantik untuk menyambutku ketika aku datang. Seharusnya, hari ini semua orang bahagia di sini. Tapi mengapa sekarang orang berduka disini? Ku beranikan diri untuk memasuki pintu itu. Pintu jawaban. Pintu yang memberikan jawaban yang mungkin akan menyakitkan hati. Jawaban yang sangat ingin aku menyangkalnya.
                Ku lihat sebuah peti di tengah-tengah orang yang berduka. Seakan-akan peti tersebut menjadi titik porosnya. Sebuah peti yang membuat orang terhipnotis untuk mengelilinganya. Sebuah peti yang berisi, entahlah, aku tak ingin membayangkannya. Kepalaku terasa berat dan pening. Seakan tak sanggup lagi menyaksikan adegan yang sangat menyakitkan. Kaki ini tiba-tiba lemas. Seakan egan diajak untuk menyaksikan isi peti itu. Semua melihatku dengan tampang yang menandakan mereka semua kasihan terhadapku. Seketika aku berharap, ada yang membuatku menghilang dari tempat itu juga.
                Sungguh, aku tak mau melihat si bidadari hujanku terbaring diam membeku tak bergarak di dalam peti itu. Aku tak ingin melihat wajah cantiknya karena aku tak ingin dia melihat wajahku yang menyedihkan ini.
                Tiba-tiba seseorang wanita setengah baya menghampiriku. Ya, ini dia sang ratu bidadari hujan yang telah melahirkan bidadari hujanku. Wajahnya tak kalah menyedihkan sama sepertiku. Terlihat sangat terpukul. Bahkan lebih terpukul.
                “Nak Rony, yang sabar yaa. Ibu menemukan ini  di kamar Hujan, mungkin ini buatmu nak.” Katanya lirih, terdengar rasa terpukul yang amat dalam.
                “Iya bu, terima kasih.” Balasku.
* * *
                Kepergiannyapun di iringi hujan. Seperti namanya “Bidadari Hujan” yang tertulis di papan nisan. Sepertinya hujan pun ikut merasa kehilangan sang bidadarinya sepertiku yang kehilangan sang bidadari hujanku. Ku baca secarik kertas yang di berikan Ibunya.

                                Dear Rony Dewanto . .
                                Kamu telah berhasil YAM untuk melewati tantangannya.
                                Bisakah kamu melakukannya setiap hari?
                                I LOVE YOU
                                                                                                Your lovely
                                                                                                Bidadari Hujan

with love
hanna

Senin, 07 Mei 2012

MEGALOMANIA


Saat tengah menghitung penghasilan bulananku yang terdiri dari gaji dan pemasukan “lain-lain” entah mengapa tiba-tiba dadaku seperti ditusuk berpuluh jarum goni. Sakit. Sangat sakit. Jantungku berdetak sangat kencang. Berdegup-degup.

Gerakannya bahkan bisa terlihat saat kemaja yang aku kenakan turut berdenyut. Keringat dingin secara berleleran.Uang yang tengah kugenggam di tangan berserakan di lantai.

Rasa sakit bertambah. Dadaku serasa terbakar. Panas. Kemeja tergesa kubuka. Kulitku rekah. Dagingku terkoyak. Dadaku retak, seperti bongkahan tanah yang kering tak pernah tersiram air. Tepat di antara rangka tulang iga, muncul lobang kecil sebesar kelingking bayi. Lobang itu perlahan membesar. Anehnya tak ada darah yang mengucur dari sana.

Saat kepala kulongokkan dan mata kupicingkan, hanya kegelapan di dalam sana yang terlihat. Tak bisa ku saksikan tulang iga, serabut otot, gumpalan daging, jantung, paru-paru. Hanya hitam dan pekat. Belum selesai masalah dengan rasa sakit, kejut campur takut, dari lobang itu seperti ada sesuatu yang mendesak. Sesuatu itu menggeliat-geliat, berusaha memperlebar lubang yang ada.

Kepala manusia!

Sesuatu yang keluar dari dadaku sewujud kepala manusia. Kepala yang mengintip sebentar. Lobang tambah lebar, seiring usaha kepala itu menjejal keluar. Mula-mula rambutnya. Memburai. Ikal dan legam. Kemudian jidatnya nongol. Seterusnya mata, hidung, mulut dan seluruh batok kepala telah ada di luar, sedikit leher orang itu masih memdekam di dalam dada. Mata orang itu memandangku, mulutnya tersenyum, memperlihatkan deret gigi yang putih bersih, tapi terawat.

“Selamat malam.”

Ia menyapaku. Reflex lantaran takut, aku segera menapuk kepala itu kembali kedalam tubuhku. Ia terbenam. Sesaat saja. Ia menyembul lagi. Menyeringai, tampaknya tak suka dengan apa yang kulakukan. Tak peduli dengan reaksinya, kujejalkan lagi kepala itu.

Bayangkan bila tiba-tiba istri dan anak-anakku muncul dan mendapati ada kepala manusia sedang tumbuh di dadaku! Cepat kuambil plester dan lem untuk merekatkan kulitku. Namun itu segera menjelma kesia-siaan. Kepala itu menyeruak lagi, menghardikku dengan marah. Teramat marah.

“Brengsek! Kau mau mencoba membunuh dirimu sendiri!”

Ia menggeliat lebih hebat, dua tangannya kini berada diluar, mencengkeram kerah legerku erat. Napasku sesak.

“Kau ulangi sekali lagi, kucekik lehermu hingga mampus, Biar kita mati bersama-sama!” Ia mengancamku, cengkeraman tangannya lebih kuat.

“Sssiapa kau?”

“Kau lupa dengan wajahmu sendiri? Bodoh!”

“A…a…aku?”

“Ambil cermin, lihat wjahmu. Bandingkan dengan wajahku. Dasar bodoh. Orang macam kau, kok bisa jadi direktur.”

Aku menyahut cermin yang tadi kupakai bercukur, kupandangi wajahku. Kagum sebentar, ternyata aku lumayan ganteng. Lantas ku amati wajah orang itu. Benar adanya. Wajahnya mirip aku. Tidak hanya mirip, malah persis. Ya, sangat persis. Seperinya aku sedang berkaca pada sebuah cermin bening. Tidak bisa dipercaya, tidak bisa dinalar.

“Bagaimana ini bisa terjadi? Siapa kau sebenarnya?”

“Kau masih saja bodoh. Aku ini dirimu.”

“Maksudmu. Kau duplikatku?”

“Goblok. . . goblok. . . Aku bukan sekedar kembaranmu. Aku adalah kau dan kau adalah aku.”

“Aku bingung.”

“Dasar direktur dungu.”

“Maksudku, bagaimana ini bisa terjadi?”

“Bukankah aku yang kau impikan selama ini?”

“Aku belum bisa mengerti.”

“Bego! Bukankah selama ini kau selalu gelisah setiap hari. Tidak pernah puas dengan keadaanmu yang sudah kecukupan. Kau ingin lebih dan lebih setiap haru. Kau ingat, waktu sudah punya satu mobil, kau masih ingin mobil lagi, yang lebih baru, lebih mewah. Dua mobil kurang, beli lagi dan beli lagi. Coba kau hitung berapa mobilmu sekarang. Satu, dua,tiga, . . . sepuluh bukan? Kau juga sudah punya ruamh megah, masih membeli ruamh lagi. Berapa rumahmu sekarang. Dua pulu. Benar? Tersebar di seluruh kota.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Aduh tololnya kau ini. Aku adalah kamu dan kamu adalah aku.”

“Oh, ya . . . ya. Aku lupa. Lantas hubungannya apa antara kamu,  mobil, serta ruamh tadi.”

“Aku lahir karena impianmu, kehendakmu, cita-citamu. Aku ada karena kegelisahanmu.”

“Kau ingin juga memiliki hartaku!”

“Wah rupanya sudah berani membentak, ya!”

Tangannya mencengkeram leherku lagi, kuat. Lebih kuat.

“Oh, . . . maaf. Maaf.”

“Begini. Kau selalu merasa kurang dan kurang setiap hari. Hanya istri saja yang tidak kau tambah. Meski begitu, bukankah wanita simpananmu teramat banyak? He. . . he. . .he. Tapi, sayangnya selama ini kau takut untuk melakukan hal yang lebih dan apa yang telah kau dapat, meski kau sangat ingin menambah kekayaanmu. Singkat saja, kau hanya berani mengutil uang perusahaan kecil-kecilan. Sembunyi sembunyi. Kau ingin seperti para konglomerat dan koruptor yang bisa membobol bank dan memanipulasi uang orang lain itu, kan? Tapi kau takut tertangkap. Maklum, relasimu kurang kuat. Bukankah kau sering berandai bila kau bisa diklononing. Bukan begitu? Nah, akulah jawabannya.”

“Ehmmmm.”

“Sekarang, kau tak perlu takut lagi. Kau bisa korupsi lebih rakus. Bisa membobol bank. Bisa menipu orang dan perusahaan. Dan kau juga membeli rumah, tanah, mobil, dan menumpuk harta hingga bergunung-gunung.”

“Lantas bagaimana kalau nanti aku tertangkap.”

“Bodoh! Bukankah ada aku. Jika kau tertangkap dan diadili, suruh hakim menghukum kau mati. Hitung-hitung memberi contoh pejabat dan konglomerat yang korup namun masih berani berkeliaran. Mentang-mentang tak tersentuh hukum. Jika kau dijatuhi hukuman mati, bukankah masih ada aku. Ingat aku adalah kamu dan kamu adalah aku. Jika aku tertangkap lagi, dihukum mati lagi, sebelumnya aku akan menduplikasikan diri. Demikian seterusnya. Kau akan tetap ada, meski pemerintahan dan peraturan berganti. Kau akan tetap makmur meski orang lain sekarat dan mengerjat.”

“Lantas, jika tertangkap. Nanti ada dua aku, dong?”

“Menguntungkan bukan? Akan banyak kamu dan aku. Manusia dengan watak yang sama dan sifat yang sama. Serakah dan jahat. Tapi tak seperti penjahat.”

“Itu nanti bisa membingungkan orang. Masyarakat bisa geger.”

“Wah benar juga.”

“Ah, aku ada akal. Operasi plastik! Kita mesti mengubah wajah.”

“Ehmm. Cerdas juga kau ternyata.”

Usai menemukan kesepakatan. Ia melanjutkan prosesi keluar dari dalam diriku. Perlahan-lahan kulitku yang tadinya retak menutup kembali. Jantungku bedenyut normal.

Sungguh, ia benar-benar aku. Wajah, tinggi badan, cara berjalan, gaya bicara serta watak dan kepribadian. Untuk mengatasi permasalahan jika istriku mengetahui apa yang telah terjadi, kami bersepakat agar salah satu dari kamu menyingkir ke rumahku yag lain.

Seterusnya kami akan mengatur cara bagaimana aku memperkaya diriku dangan cara-cara jahat yang elegan.

                                                                           * * *

Maka demikianlah, kekayaanku menumpuk setiap harinya. Mobil mewah dan rumah megah semaki tak terhitung. Pabrik dan perusahaan juag bertambah setiap waktu. Uang menjadi hal yang mudah didapatkan tanpa perlu memeras tenaga dan keringat. Semuanya menjadi kian mudah.

Aku dan duplikatku tak pernah tertangkap. Memang sekali waktu pernah orang-orang menuduhku, sempat pula dibawa ke pengadilan. Namun kejahatanku tak pernah bisa dibuktikan. Kalaupun bisa, bukankah aku sudah mempunyai solusi atas semua itu. Aku punya banyak uang, dan bisa kulakukan semuanya dengan uang itu.

Namun ada hal yang lebih penting yang perlu kuungkap betapa aku selalu merasa tidak puas. Aku merasa kurang dan selalu kurang. Aku juga gelisah. Jika sudah demikian, maka prosesi penduplikasia ndiri berulang. Memang teramat sakit, jantungku berdenyut hebat, kulitku retak. Ada lobang di antara iga. Dan perlahan-lahan muncul diriku lagi.

Penduplikasian kedua kalinya itu, tak memakan waktu lama, lantaran tak ada lagi yang perlu dicakapkan antara aku dan dia. Aku dan dia adalah satu: satu kegelisahan, satu ambisi, satu keinginan, dan satu keserakahan.

Hingga prosesi penggandaan diri tak lagi menimbulkan rasa sakit. Semua berjalan sangat normal. Bahkan kini aku sangat menikmatinya, melebihi bercinta dengan wanita simpanan.

Entah berapa kali aku telah menduplikasikan diri. Entah berapa banyak aku telah tercipta dan ada. Meski demikian, aku tak lupa berpesan pada duplikatku, bahwa untuk menghindarkan kecurigaan masyarakat: bahwa kami tak boleh mempunyai wajah yang sama. Kami harus mengubah wajah kami secara berlainan. Maka, menjelmalah kami menjadi laki-laki atau perempuan dengan bermacam profesi: mulai dari mahasiswa, pengusaha, konglomerat, aparat, wakil rakyat, birokrat, pejabat dan lain-lainnya. Oh ya, tak satupun dari kami yang miskin. Semua kaya dan berada. Sebagian besar dari kami dihormati. Desegani dan ditakuti. Hanya beberapa yang dicela. Sangat sedikit yang masuk penjara.

Kami semakin bertambah banyak setiap hari, lantaran setiap duplikasi sudah berhak menduplikasikan dirinya sendiri. Jadi bukan hanya aku saja yang bisa menduplikasi diri.

Bukankah kami mempunyai kegelisahan yang sama akan keserakahan. Bukankah kami mempunyai tujuan sama : memuaskan diri kami dan keinginan kami seakan tak pernah tercukupi itu. Pada waktu yang terus merangkak, kami semakin bersemangat menduplikasi dan terus-menerus memperbanyak diri. Kami telah bertekad memenuhi negeri ini dengan diri kami : orang yang mempunyai sifat, ambisi dan niat yang sama.

O la la, hampir lupa. Aku pribadi berencana untuk mengajukan diri menjadi calon presiden negeri ini. Akan kugunakan segala cara untuk mencapainya. Bukankah aku mempunyai modal yang kuat untuk itu? Hartaku berlimpah. Kalaupun kurang aku bisa meminta bantuan dari para duplikat yang tersebar di seluruh negeri ini. Bagaimana dengan massa dan pengikut? Tak perlu ditanyakan, jumlah diriku saja dalam catatanku tahun lalu sudah mencapai 3 juta orang, mereka semua bergelimang harta.

Relatif lebih mudah untuk menyogok masyarakat yang kebanyakan miskin dan bodoh itu. Dan hal yang lebih meyakinkanku untuk maju sebagai calon pemimpin negeri ini, tentu, keserakahan! Ya, negeri ini tak layak dipimpin oleh orang baik-baik. Perasaanku mengatakan negeri ini akan lebih baik dipimpin oleh orang yang serakah. Dan aku mempunyai kriteria itu.

Lantas bagaimana jika aku gagal? Toh, kalau pun gagal, bukankah masih banyak diriku yng lain yang  nanti akan mengikuti jejakku? Jadi tak perlu khawatir tentang hal itu.


 Karya : Ye Kusdianto aka Pak Yuyun :)


Megalomania, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti suatu kelainan jiwa yang ditandai oleh khayalan tentang kekuasaan dan kebesaran.

Senin, 06 Juni 2011

buku harian mengerikan PART 2

Ia meninggalkan aku sendiri di kamarku yang baru. Mungkin itu lebih baik, karena aku saat ini memang membutuhkan kesendirian. Tiba-tiba aku merindukan rumahku yang dulu. Rumah kecil, namun nyaman. Yang penuh dengan perabotan antik yang di beli Ibu dipasar loak. Meskipun sedikit berantakan. Mungkin memang berantakan, namun jauh lebih nyaman. Dan yang paling ku rindukan adalah Ibu, meskipun dia tidak selalu pulang kerumah sebelum jam makan malam, namun dia adalah Ibu yang tahu cara mendengar, ia tahu cara tertawa, ia tahu cara berada disisimu saat kau membutuhkannya, dan ia tahu caranya menghilang saat kau sedang butuh sendirian.

Kau tahu, aku sangat merindukan Ibu saat ini. Hingga merasa seolah bakal terbakar habis saking merindukannya, seakan-akan tak lama aku akan meleleh, hancur berkeping-keping. Tak lama kemudian aku tertidur di kasurku yang baru.

BIP! BIP! BIP!

Sudah pukul 09.30, aku seharusnya sudah siap pergi berbelanja bersama Ayahku dalam setengah jam! Aku melompat dari tempat tidur dan nyaris meremukkan pergelangan kakiku, karena lupa betapa tingginya tempat tidurku. Aku tertatih masuk ke ruang bilas, namun tombol dan saklar canggihnya kelewat banyak sehingga aku tak athu bagaimananya aku menggunakannya. Jadi aku putuskan untuk memilih berendam saja, tapi tetap kelewat canggihnya bahkan aku tak dapat menemukan caranya menutup lubang airnya. Akhirnya aku menyerah dan hanya membasuh ketiakku. Seumur hidup aku tak pernah masuk ke kamar mandi yang membuatku seperti orang tolol.



Sesampai di toko, benar-benar karja keras berbelanja dengan ayah luar biasa kaya yang membelikanku apa saja yang ada di depan mata untuk menebus waktu seumur hidup yang terhilang akibat pengabaian tingkat dunia. Benar-benar kerja keras untuk bersikap seakan-akan aku tidak benar-benar menginginkan satu pun benda yang ia belikan untukku, padahal sebenarnya aku menginginkannya, amat, teramat sangat. Hanya saja, aku tidak menginginkannya karena dialah yang membelikannya, namun aku memang menginginkannya karena aku selalu memimpikan punya computer persis seperti ini dan semua pakaian bagus dan perhiasaan dan sepatu. Benar-benar kerja keras untuk bersikap seakan-akan menerima atau tidak menerima semua benda ini sama saja bagiku.


hhanna ^,^
to be continued :D

Sabtu, 04 Juni 2011

buku harian mengerikan PART 1

Aku tak mau naik kapal besi bersayap ini dan membawaku melesat terbang dalam perjalanan yang mengerikan untuk tinggal bersama Ayahku. Ayahku? Apakah dia benar-benar Ayahku, aku masih sanksi atas hal itu, karena aku sendiri belum pernah bertemu dengannya. Yang ku tahu dia adalah Ayah yang brengsek, Ayah yang paling payah di dunia ini. Kerana dia telah meninggalkan Ibuku sejak aku masih dalam kandungan.

Aku tak mau diseret beribu-ribu mil jauhnya dari semua kehidupanku dan dari semua teman-temanku. Bahkan jauh dari kotak kayu dingin yang tenggelam di tanah yang didalamnya ada Ibuku yang kedinginan, sendirian dan dalam kegelapan. Saat ini aku hanya berharap, aku tak mau terperangkap dalam besi sialan yang bisa terbang ini. Sesaat terlintas dalam kepalaku untuk beberapa detik, apakah aku harus merangkak,memohon kepada Bibiku satu-satunya agar dia membawaku pulang bersamanya, dan tinggal dirumahnya yang sangat sederhana –sangking sederhananya untuk meluruskan kaki saja tak sanggup- jadi kutahan saja keinginanku untuk merengek.

Depresi? Siapa? Aku? YA.

Ngomong-ngomong soal Ayahku. Aku baru menyadari saat aku cukup besar, kalau aku tak punya seorang Ayah? Kadang sebuah pertanyaan yang terlontar dan pasti pertanyaan itu tertuju untuk Ibu. “Kok dia bisa punya Ayah, dan aku tidak?” Tetapi Ibu hanya menceritakan tentang Ayahku saat sebelum aku lahir. Tapi karena ada Bibi, sedikit banyak aku mulai mengenal siapa Ayahku.

Sejak usiaku 4tahun, setiap tanggal ulang tahunku. Bibi selalu bilang, kalau dia akan mengajakku menemui Ayahku. Tetapi dia mengajakku pergi ke gedung yang mempunyai TV yang super besar. Sangat ingat saat itu saat lampu-lampu mulai meredup dan filmnya dimulai, aku belum menemukan Ayahku “Dimana dia?” aku berkeras ingin tahu, nyaris menangis. Lalu Bibi merangkulku dan menuding sosok pria berukuran raksasa dalam layar. “Itu dia Ayahmu sayang.” Ayahku seorang aktor terkenal, yang bisa memainkan perannya dengan sangat hebat –anggapanku saat itu- tetapi semenjak aku beranjak dewasa Ayahku tidak sehebat itu, dia hanyalah Ayah yang payah.

Saat aku naik pesawat ini, aku berkata “Aku tidak mau naik pesawat ini.” Tapi sekarang setelah pesawat ini tiba di tempat tujuannya, “Aku tidak mau pergi dari tempat duduk ini.” Aku bergerak sangat lambat saat mengemasi barang-barangku, dan memaksa diriku untuk menyusuri lorong, melewati pramugari yang menganggukan kepala, dan akhirnya sampai diambang pintu pesawat. Dan dengan sedih menyadari bahwa langkahku membawa aku semakin dekat dan dekat ke donator sperma itu.

Itu dia sang “Aktor Terkenal” dalam tiga dimensi penuh yang bisa kulihat dengan nyata, tapi dia tidak menyadari kedatanganku. Aku tidak tahu apakah aku harus berlari menghampirinya atau kabur. Kalau saja aku merasa ingin berlari dan memeluk lehernya, kalau saja aku merasa ingin mengatakan kalau aku menyayanginya dan semuanya telah termaafkan. Tapi nyatanya aku tak melakukan apa-apa. Aku hanya sibuk memperhatikannya yang sedang memberi tanda tangan untuk penggemarnya.

Oh, dia melihatku. Perasaan nyaman yang seketika bermetamorfosis jadi rasa ngeri. Dia berjalan kepadaku, tersenyum dan berkata “Kau pasti Siska?” Ingin rasanya aku berkata “Bukan, tolol.” Ingin sekali rasanya aku mencengkeram kerahnya dan menjerit, “Kemana saja kau seumur hidupku, dasar makhluk tak berharga.” Tetapi semua kata-kata itu hanya tertahan dalam tenggorokanku dan aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan bodoh tadi.

”Selamat datang putriku tersayang!” Seolah-olah dia sudah melatihnya dulu. Seolah-olah dia tulus mengatakannya. Seakan-akan ia benar-benar tulus. Yah, memangnya kenapa kalau dia benar-benar tulus? Karena aku akan memberitahunya bahwa dia tidak bisa masuk seenaknya dalam kehidupanku dan memainkan perannya sebagai ayahku. Tidak setelah Ibuku melakukan kerja keras mendidikku menjadi manusia yang pantas, yang tak dilakukannya. Tetapi, aku disini untuk memberitahunya bahwa ini akan menjadi peran tersulit yang harus dia mainkan.

Rasanya ngeri naik limo, padahal sebelumnya aku juga sudah pernah naik limo, saat pemakaman Ibu. Tapi bedanya sekarang, ada seorang bintang film tepat disebalahku yang terus memandangiku seakan-akan aku bintang film. Dan sekarang matanya berkabut dengan cara menjijikan dan dia berkata, “Kau mirip sekali dengan ibumu.” Wow, aku merasa seolah-olah aku ini bintang film salah satu opera sabun jelek. Dan sutradara mulai berteriak “Cut!” Kalau aku tidak menyimak dan mengingat dialogku. Jadi aku berkata “Kau lebih pendek daripada yang tampak di layar.” Dan itu praktis meludahkan kata-kata itu diwajahnya.

Dalam perjalanan sangat panjang, meliuk menembus hutan, pepohonan palem yang menggerak-gerakkan leher kurus mereka. Rumah itu mulai tampak. Bagaikan di negeri dongeng. Menara kecil. Balkon. Bahkan ada sesuatu yang kelihatannya seperti jembatan. Apa? Benar-benar serasa di negeri dongeng.

Dia membimbingku saat melewati pintu muka. Dan apa yang ku lihat membuatku kesulitan menjaga mataku agar tak keluar dari soketnya. Lorong depannya saja lusanya dua kali rumah dan Ibu tinggal. Lantainya saja berkelip-kelip. Ada kolam ikan dalam ruangan yang berdeguk tepat di tengahnya, anak tangga pualam meliuk sebelah kiri, dan di sisi kanan, sebuah ruang duduk kurang-lebih seluas lapangan sepak bola. Bercanda ding, mungkin terlalu melebih-lebihkan. Setengah luas lapangan sepak bola, tepatnya. Benar-benar rumah yang sederhana.

Ia menuntunku keluar dari ruangan itu dn menaiki anak tangga, menyusuri lorong yang dilapisi permadani sangat lembut hingga aku tenggelam sampai pergelangan kaki. Dan ia berhenti di sebuah pintu kayu ek, membukanya, dan menunjukan –kamar tidurku. Aku nyaris pingsan melihatnya. Karena ini adalah kamar impianku. Ini benar-benar kamar yang ku impi-impikan. Dan melihatnya merupakan pengalaman amat sangat mengherankan karena ini kamar yang sama persis dengan yang pernah kudeskripsikan dalam esai di perlombaan yang kumenangkan sebagai juara pertama. Siapapun yang merancangnya pasti telah membaca pikiranku. Di sana ada perapian batu, lampu-lampu gelas berwarna yang antic, dn tempat duduk yang nyaman di samping jendela. Bahkan disana ada rak buku besar yang penuh dengan buku-buku. Tak ayal tempat tidur berkanopi dihiasi kelambu renda, begitu tinggi dengan tumpukan selimut tebal dan bantal. Sial. Ini kamarku yang selalu ku idamkan. Hanya saja aku tidak menginginkannya di sini.



Hhanna

to be continued :D

Minggu, 17 April 2011

KAU

Masa lalu yang kembali hadir di masa sekarang ???

Bagai teka-teki yang tak akan terpecahkan oleh satu jawaban logis atas apa yang pernah ku buat pada masa lalu. Suatu kesalahan terbodoh yang pernah kubuat. Mungkin kalau di cari jawaban dengan menarik kesimpulan setelah ku rentetkan seluruh kejadian, semua yang ku alami sekarang bagai sebuah kesempatan. Kesempatan yang tak semua bisa merasakannya. Dan ini awal mula permasalahan di mulai.

Ku jalin hubungan dengannya, “Dewa. .” biasa kupanggil. Hubungan kami berjalan mulus bak jalan tol. Tak ada jalan berlobang maupun kerikil yang menghiasi. Dia juga sangat sayang padaku. Tapi bukan berarti itu menjamin semuanya menjadi awet atau lebih familiar disebut langgeng. Entah kenapa diriku mulai dilanda penyakit jenuh, jenuh dengan rasa cemburunya, semua tuntutannya. Ku ingin menjalani suatu hubungan yang berbeda. Mulai terbesit di benakku untuk ngelaba. Menduakan cintanya. Apalagi setelah masuk makhluk yang sejenis dengan Dewa dalam segi “vocal” itu dalam kehidupanku.

“Ben. .” kata pertama yang terucap ketika kami berkenalan.

Kami ditemukan oleh sahabat lamaku. Bertemu Ben bagaikan obat kejenuhanku. Apalagi saat itu aku juga dalam selisih faham dengan Dewa. Waktu bersama Ben duniaku bagai tanpa beban, masalah dan semua tentang Dewa, aku hide dengan sempurna. Di sisi lain, di ruang kosong dalam pikiranku, aku mulai sibuk mencari berjuta-juta alasan yang tepat dan pas yang nantinya akan kujelaskan pada Dewa. Dan masih terlintas untuk mendua.

“Semua keputusan ada di tanganmu. Pilih mana yang bisa membuatmu bahagia” Kata seorang teman padaku ketika aku sedikit banyak bercerita tentang masalah yang melandaku.

Semua ku kira dapat berjalan dengan lancar awalnya. Di sisi lain ku jalani hubungan tak berstatus bersama Ben, dan di sisi lainnya pula ku jalankan sandiwaraku dengan sempurna bersama Dewa agar hubunganku selama ini yang ku rajut bersamanya tak terbengkalai begitu saja. Tetap ku jaga hatinya dengan menutupi semua perubahanku dari Dewa. Dan tampaknya pula Dewa tidak merasakan adanya perubahan, atau mungkin memang perasaanku saja. Tapi itu semua tak sejalan dengan rencanaku, sampai akhirnya. . .

“Olla. .?” nama yang tercantum dalam akta kelahiranku, sekali lagi “La. .?” Ben memanggil sambil menyenggol lenganku.

“Eh. . .” lamunanku membuyar seketika, “Apa Ben ?” ku sunggingkan senyum kecilku.

“La. . maukah kau jadikanku kekasih hatimu ?” tanya Ben sungguh-sungguh sambil menggenggam kedua telapak tanganku.

Aku terdiam, tak dapat satu pun kata yang terucap dari bibirku. Kaget. Tak percaya. Bingung. Begitu yang dapat ku rasakan saat itu juga. Dan aku masih terdiam membisu.

“La . . .gimana jawabannya ?” harap Ben cemas “Mau atau tidak. .?” masih menggigit bibir bawahnya.

“Tapi. . . . .”ku gantungkan ucapanku, opss, , seketika terlintas bayangan seorang Dewa di benakku.

“Tapi apa?” tanya Ben penasaran.

“Nggak apa-apa kok. Beri aku sedikit waktu ya Ben untuk menjawab pertanyaanmu itu.” Ku sembunyikan semua rasa gelisahku.

Apa yang harus ku pilih diantara dua pilihan yang sulit. Bersama Ben aku bisa tertawa lepas dan aku merasa nyaman. Tapi Dewa ? aku sayang dia. Dia sudah banyak mengajariku arti kedewasaan meskipun aku setengah hati menerimanya. Oh GOD, apa yang harus ku pilih ?? Aku nggak mau kehilangan dua-duanya.

“Wa, please putuskan aku !!” entah setan apa yang merasuki diriku sampai-sampainya kalimat itu terucap lewat bibirku ini.

“Kenapa ?”

“Putuskan aku ! !” air yang di pelupuk mataku akhirnya jebol juga dari pertahanan. Berat rasanya mengeluarkan kata itu. Hati ini bagai menentang.

“Baiklah, kalau itu maumu.” Menghela nafas seakan tak rela.

Ku tinggalkan Dewa. Masa lalu yang terbuang tanpa harus ada alasan yang ku tuturkan. Maafkan aku Dewa. Mungkin ini semua nggak adil bagimu. Tapi aku nggak punya pilihan lain waktu itu. Sempat terlintas dipiranku “Apa sih yang aku pikirin tentang cinta, umurku toh juga baru 17 tahun, aku masih pengin seneng-seneng.”

“Ya. .aku mau terima kamu.” Menjawab pertanyaan Ben yang sempat ku gantung.

Ku serahkan semua pada Ben. Rasa sayangku. Perhatianku. Waktuku. Dan ku nikmati status baruku, menjadi ceweknya Ben seorang. Tak ada yang lain. Sedikit demi sedikit namun pasti memori tentang Dewa ku delete hampir sempurna. Tapi ada sedikit rasa mengganjal di hati, namun tak ku hiraukan.

Aku bagai mendapat keluarga baru saat ku bersama Ben, yang tak pernah ku dapatkan bersama Dewa. Papa, Mama, bahkan Kakak dan Adik sekaligus. Semakin mantaplah ku jalani hubungan ini. Tapi banyak juga air mata yang harus ku keluarkan untuk seorang Ben. Atau jangan-jangan aku mulai terobsesi dengan sosok Ben.

Diselang menjalani hubunganku bersama Ben, aku juga masih menjaga komunikasiku dengan Dewa. Meskipun aku nggak tau apa yang dirasakan Dewa pada saat itu. Marah? Sebel? atau Benci pada diriku?hmmm. . . entah apa, aku nggak tau, atau mungkin diriku memang nggak mau tau soal itu.

Disaat aku ada masalah dengan Ben, pada Dewalah tempatku untuk mencurahkan seluruh isi hatiku. Semua uneg-unegku. Dan rasa bersalahku pun timbul, saat ku tatap mata Dewa. Dia begitu setia mendengar setiap kata yang keluar dari mulutku. Tapi mau dikata apa lagi. Semua sudah berlalu dengan kemenangan dari keegoisan seorang Olla. Ya . .hanya keegoisan seorang Olla.

“La. .perlu kamu tau, sampai kapanpun aku akan tetap sayang kamu.” Kata Dewa sambil lalu.

Please Wa, jangan bilang gitu lagi, kataku dalam hati dan ku yakin Dewa tak dapat mendengarnya. Hanya dapat kutunjukan pada Dewa sebuah simpulan senyuman kecil.

Masalahku bersama Ben, semakin hari semakin memburuk. Meskipun sudah ku coba untuk mempertahankannya. Aku nggak mau gagal lagi. Tapi toh, akhirnya Ben melepaskanku juga. Tak ada gunanya semua usahaku selama ini. Sia-sia. Ben melepaskanku dengan cara yang sama persis saat aku melepaskan Dewa. Tanpa ada sebuah kejelasaan yang terucap.

Apa ini yang dinamakan hukum karma? Apakah ini hukuman bagi orang yang memainkan perasaan sesorang. Aku nggak tau. Aku NGGAK TAUUU. . . ! ! !

Dan satu-satu orang yang dapat menenangkan aku saat itu, hanya Dewa. Dewalah yang selalu ada di saat aku butuh. Dewalah yang selalu mendengarkan semua keluh kesahku. Apakah ini pantas aku terima dari seorang Dewa, setelah semua yang kulakukan nggak adil baginya. Sampai terucap pertanyaan dari mulut Dewa, yang membuatku sadar betapa bodoh dan egoisnya diriku saat itu.

“La, maukah kau kembali disisiku ?”

Aku hanya mengangguk. Nggak ada satu kata pun yang dapat keluar dari mulutku. Hanya terlintas di pikiran Apakah aku pantas mendapatkan kesempatan ini ?

Dan sekarang dia nyata, nyata yang tampak terlihat jelas di mataku. Terpegang, terasa, terlihat. Bukan sebuah mimpi atau angan-angan semata. Kehadirannya bukan lagi sebagai kabut, yang dapat dihirup namun tak bisa di genggam. Aku akan menebus semua kesalahanku selama ini. Mungkin hanya itu yang dapat ku berikan pada DEWA. Semua rasa cintaku.









Hhanna , 22 Agustus 2010 ^___^

SEPENGGAL KENANGAN

Guntur di luar, suaranya mengiris hati. Angin dan air seperti beradu. Dingin. Padahal aku sudah mengenakan sweater pemberian Yudhis ketika ulang tahunku yang ke 17 dua tahun kemarin. Yudhis?? Saat aku mengingat namanya, tiba- tiba air bening dan hangat jatuh ke pipiku. Dasar cengeng!!! Kenapa aku harus menangis lagi ???



Air yang menyeruak dari mata terus saja mengalir ke pipiku yang mulai memanas, ketika aku mulai membuka dan melihat kembali semua kenangan yang menjadi saksi perjalanan dan kebersamaanku dengan Yudhis. Hari demi hari,ketika Yudhis mengucapkan cintanya padaku dan ketika aku habiskan hari-hariku bersama Yudhis di akhir hidupnya.

* * *

Siang yang sangat menyengat kulit, membuatku malas-malasan untuk pulang ke rumah. Aku merasa lebih nyaman duduk di bawah pohon rindang yang tumbuh tepat di depan sekolahku, sambil menunggu angkutan yang sering mengantarkanku sampai rumah. Tiba-tiba. . .

“Hayoo. . .ngelamunin apa sih, kok kayanya serius amat, ikutan dong.“ Icha, sahabatku, dengan sangat sukses membuyarkan semua lamunanku.

“Eh. . .siapa juga yang ngelamun. Kamu ini datang nggak bilang-bilang sih, bikin kaget saja.”

“Kalau enggak ngelamun, terus namanya apa coba? Kamu juga pake acara kaget segala gitu” goda Icha “Ah, sudah lupakan, masih ada hal yang lebih penting lagi”

“Emang ada apa lagi toh Icha, temenku sayaang?”

“Temenin aku yuk, aku mau ketemuan sama cowok nih, mau ya Key, pliiisss” dengan tampang memohon khas Icha yang nggak bisa ku jawab tidak.

Inilah awal aku bertemu dengan sosok Yudhis.

“Hai, udah lama nunggu ya?” kata cowok berkulit coklat dengan tampang yang manis, ,hmmmm menurut pandanganku.

“Eh,, Yudhis sini, duduk sini. Nggak lama kok. Yudhis kenalin ini Key, Key ini Yudhis.” kata Icha sambil mengkerdipkan sebelah matanya ke arahku.

“Hai. . .” sapaku malu-malu.

Ternyata pertemuanku dengan Yudhis adalah akal-akalan si Icha saja. Dengan sengaja memperkenalkanku dengan sosok Yudhis. Oh My GOD, , Ichaaaaa !!!!

* * *

Sejak pertemuan saat itu, aku dan Yudhis semakin dekat, dekat dan sangat dekat. Yudhis yang tidak pernah absen mengantarkanku pulang sekolah, meskipun aku butuh waktu beberapa menit untuk menunggu Yudhis. Ya. . .itu dikarenakan jarak antara sekolahku dan sekolahnya cukup jauh.

Ternyata sosok Yudhis jauh lebih mengasyikkan dibandingkan dengan penampilannya dari luar. Dia bagaikan pangeran berkuda putihku.

Dan kami pun telah meresmikan hubungan kami sebagai sepasang kekasih. Yudhis menyatakan cintanya tidak menggunakan sebuket bunga mawar merah atau dengan sekotak coklat bahkan yang serba pink. Dia hanya menggunakan seribu lilin, ya hanya seribu lilin seperti impianku selama ini, dan itupun cukup membuat pipiku memerah.

Yudhis sangat menyayangiku dan begitu juga aku yang sangat menyayangi dirinya. Rasa sayang Yudhis dapat kulihat pada saat dia berantem dengan anak kuliahan yang sangat kurang sopan terhadapku.

“ Oh. . .kamu rupanya !!!! Tau nggak yang selama ini SMS-an dengan kamu itu aku. Aku cowoknya Key, ,kamu itu jadi cowok kurang ajar banget,,NGERTI ENGGAK ?? “ suara Yudhis bergetar hebat karena menahan amarah.

Dan bruuuukkkk. . . .

Sebuah helm berhasil mendarat dengan mulus di kepala anak kuliahan itu, tanpa ada sedikitpun perlawanan darinya. Dan darah segar mengalir tepat dikepalanya.

Untuk pertama kalinya aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Yudhis benar-benar kalap dengan wajah yang penuh amarah.

“Uddaaaahhh. . .”kataku setengah berteriak dan menangis. Aku ngeri melihat kejadian itu dan sangat cepat sudah banyak warga yang datang untuk melerai mereka.

Akibat kejadian itu, Yudhis sempat diamankan di kantor polisi. Tapi akhirnya dia di bebaskan.

Dan ada kejadian lagi yang dapat aku simpulkan bahwa Yudhis benar-benar sayang aku.

Hari itu tepat umurku bertambah satu tahun dan tepat juga umurku menjadi 17 tahun, umur yang banyak di tunggu-tunggu oleh kaum hawa. Berbagai ucapan dari orang-orang yang ku sayangi datang menghujaniku. Tapi satu ucapan yang aku tunggu-tunggu tak kunjung datang, ya ucapan dari Yudhis.

“ihh. .nyebelin banget sih. Apa dia lupa bahwa hari ini ulang tahunku?”

“Sabar sayang, mungkin dia lagi sibuk. Jadi belum sempat ngucapin.” Mama berusaha menenangkan diriku.

Tapi sampai malam tiba kata yang aku tunggu-tunggu itu pun tak kunjung datang. Bahkan kabar dari dia juga nggak ada. Aku pun mencoba untuk menghubungi dia dan hasilnya NOL BESSAAAARRR!!!!

“Cukup sudah kesabaranku kali ini.” gerutuku di kamar dengan mata yang terus tertuju pada handphone kesayanganku.

Dan tiba-tiba. . .

Tok..tok..tok..

Pintu kamarku serasa di ketuk. . .

“Siapa ?” teriakku

“Ini Mama sayang, boleh masuk?” tanya mama halus

“Masuk aja Ma, nggak di kunci kok”

Seketika Mama masuk, duduk disebelahku dan mengusap halus rambutku.

“Ih anak Mama yang cantik kok jadi jelek gini sih?” goda Mama

“Ah Mama, aku lagi sebel nih Ma.”

“Udah, sebelnya di tunda dulu sekarang siap-siap gih, dandan yang cantik ya sayang.”

“Lho Ma ??” tanyaku bingung

“Udah, nurut aja apa kata Mama. Mama tunggu di bawah, nggak pakai lama ya sayang?” Mama mengkerdipkan sebelah matanya.

Mama sudah menghilag dibalik pintu kamarku. Dan aku pun berdiri dengan malas-malasan menuruti semua perintah Mama. Tak perlu waktu lama, aku pun sudah siap dan rapi, meskipun dihatiku paling dalam masih ada rasa penasaran. Aku pun berjalan menuruni anak tangga satu persatu, dan tepat pada anak tangga terakhir,aku melihat seluruh keluargaku berkumpul dan membuatku kaget.

“Udah siap?” tanya Mama

“Siap Ma, tapi. . .??”

“Udah Kak, ayo berangkat” sergah adik sepupuku sambil menggeret jemariku.

Di tengah pejalanan, pikiranku tak henti-hentinya menebak akan kearah mana mobil ini akan berhenti. Tak butuh waktu lama, mobil pun berhenti tepat di resto yang. . . ehhmmm terukur terlalu romantis buat acara keluarga.

Dan suasana romantis itu pun telah dihadirkan sebelum pintu masuk resto, dengan hiasan obor di tiap sudutnya, tak ada satupun lampu yang digunakan untuk menerangi resto tersebut. Terdengar pula alunan musik dengan di iringi petikan gitar akustik yang terdengar sangat lembut di telinga, tetapi tidak cuma petikan gitar yang terdengar aku juga mendengar suara meskipun lamat-lamat, lambat laun suara itu semakin terdengar sangat jelas, jelas dan jelas, tapi tunggu sebentar. . .aku mengenali suara lembut dan khas tersebut. Itu suara Yudhis,, ya benar suara Yudhis, dan aku yakin itu, untuk lebih meyakinkan lagi aku mengikuti suara itu berasal.

Dan WOW. . .

Mataku seketika langsung berbinar-binar, tertanya dugaanku benar, itu suara Yudhis, yang sedang menyanyikan lagu kesukaanku, terdengar lebih bagus dan romantis dengan diiringi gitar akustiknya. Dan tak jauh dari situ, ada semua sahabat-sahabatku yang tersenyum jail kepadaku dengan sebuah kue kecil dan lilin berangka 17 di atasnya.

Aku masih berdiri terpaku melihat Yudhis bernyanyi. Uhh. . .romantis banget dan ini semua merupakan kado terindah yang pernah ku dapatkan. Benar-benar indah, dengan semua orang yang aku sayangi berkumpul, dan aku bagaikan cewek yang paling beruntung di dunia ini.

Di depan seluruh keluarga dan sahabat-sahabatku, Yudhis memberanikan diri untuk memberiku sebuah cincin sederhana dan sekotak bingkisan yang berisi sebuah sweater yang sangat lucu. Dan ditambah Yudhis mencium keningku. Itu semua adalah kado yang tak pernah tergantikan oleh apapun. Aku semakin sayang Yudhis.

“Aku sayang kamu, Key. Jangan pernah tinggalin aku ya?” bisik Yudhis lembut di telingaku.

Aku hanya sanggup mengangguk dan meneteskan air bening hangat ke pipiku yang memerah.

* * *

Dan pipiku semakin terasa panas dan air mata yang tak dapat dibendung lagi di pelupuk mata, ketika teringat masa-masa itu, ditambah lagi dengan foto-foto yang ada di genggamanku sekarang. Andai aku sedang bermimpi, aku berharap bertemu kamu, Yudhis, dan aku tak mau membuka mataku untuk mengakhiri semua mimpi indahku bersama kamu. Aku ingin bersamamu.

“Aku kangen kamu, sangat kangeeen kamu, Yudhis.” isakku sambil menatap foto Yudhis. “Aku ingin kamu kembali, aku ingin kamu disini, disisiku dan menemaniku. Aku kangen kamu.” kataku setengah teriak menahan rasa sakit di dada.

Di luar hujan pun masih setia menemaniku, dan itu membuat perasaanku tak karuan. Rasa penyesalan. Rasa bersalah. Rasa kangen. Rasa sakit, bercampur menjadi satu. Tangisku semakin menjadi. Dan aku tahu apapun yang ku lakukan itu tidak dapat membuat Yudhis kembali. Sia-sia.

* * *

Pagi yang cerah ditandai dengan kicauan burung yang saling bersautan, dan sinar matahari dengan nakal memasuki kamarku melewati celah-celah jendela kamarku. Ku buka mata dengan sangat malasnya dan ku rasakan badanku sangat lelah. Aku baru sadar kalau tadi malam aku dapat memejamkan mata hampir lewat tangah malam.

“Pagi bidadari Mama yang suka tidur.” menghampiriku dan mencium keningku.

“Pagi juga Ma.”

“Kamu ingat hari ini tanggal berapa Key?” kata Mama sambil sibuk membuka korden jendela kamarku.

“Emmmmm. . .”

“Emmmm?” Mama mengerutkan kening.

Aku tersentak, tanggal ini tepat satu tahun Yudhis meninggalkan diriku untuk waktu yang sangat lama sekali bahkan untuk selama-lamannya, meskipun kadang aku menyangkal hal itu.

“Ingat Ma.” kataku lemas

Aku terdiam dan kembali teringat kejadian satu tahun yang lalu, beberapa hari sebelum. . . .ya sungguh diriku ingin melupakan kejadian itu karena hanya akan menimbulkan luka lama yang sulit untuk di sembuhkan dan rasa sesalku yang teramat dalam.

Tepatnya . . .

Pagi ini agak mendung, dan aku merasa sangat bosan sendirian di rumah, ya seperti hari-hari sebelumnya. Aku ingin keluar rumah untuk sekedar jalan-jalan dan satu-satunya jalan terahkir buat mengabulkan semua keinginanku adalah Yudhis. Dan akhirnya HPku sudah tersambung dengan telepon rumah Yudhis.

“Halo. .selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” kata seorang perempuan tengah baya di seberang sana.

“Pagi, ini bibi Ijah ya? Ini Key, Bi. Yudhisnya ada?”

“Owalah non Key. . Mas Yudhisnya ada tuh non, Bibi panggilin sebentar ya non.”

“Makasih, Bi.”

Tak lama kemudian. . .

“Halo, Key. Ada apa Honeyku?” tanya Yudhis dangan nada bicara yang sangat familier di telingaku.

“Jalan-jalan yuk, Beib. Bosen nih dirumah.” pintaku

“Sekarang? Oke deh, tunggu 30 menit ya?”

“Ehmmm, Siiip !! Makasih ya sayang.”

Dan tut. .tut. .tut. . Sambungan telepon akhirnya terputus.

Inilah yang membuat aku tambah sayang Yudhis, dia selalu ada buatku. Di saat aku sangat membutuhkannya.

Ternyata, kali ini dia on time, bahkan tak sampai 30 menit, dia sudah berada di depan rumah. Sesegara mungkin aku berlari keluar untuk menyambutnya. Aku tersenyum kepadanya, dia membalas dengan senyuman kecil dan memunculkan lesung pipi di kedua pipinya.

“Tumben datang lebih awal?” tanyaku heran, nggak seperti biasanya Yudhis on time, bahkan lebih awal.

“Pengen aja, ayo cepat naik.”

“Eiittss. .eehhmm, tumben juga dandan lebih rapi dan serba putih gini?” sambil mengkerlingkan mataku.

“Iihh. .cerewet banget sih cewekku satu ini, mau naik atau tetap mau komentar nih?”

“Yeee. .kan cuma tanya, tumben-tumben aja kamu gini.”

Aku pun segera naik duduk di belakang Yudhis dan memeluk pinggangnya.

“Mau kemana nih Nona bawel?” goda Yudhis.

“Terserah deh, kemana aja. Yang penting sama kamu.”

“Kalau gitu ke kebun teh aja ya sayang, udah lama aku nggak kesana.” Dan aku hanya membalas dengan satu anggukan.

Di perjalanan, kami hanya diam dengan pikiran masing-masing, tapi tak lama Yudhis pun memulai percakapan dengan nada serius memecahkan keheningan diantara kami.

“Key, aku sayang kamu. Sayang banget. Bila aku nggak ada, kamu janji ya, jaga diri baik-baik.”

“Kamu ngomong apa sih, aku juga sayang kamu kok.”

“Makasih ya, Key.”

Dan aku memeluk pinggang Yudhis lebih erat lagi dan tangan Yudhis membalasnya dengan mengelus lembut tanganku. Lalu tiba-tiba ada seseorang melintas depan kami. Lalu. . .

DUUUAAAARRR. . . .!!! Di iringi bunyi dencitan yang sangat mempekakkan telinga, dan terdengar pula suara hantaman antara logam yang baradu dengan tulang dan daging yang menghantam kerasnya jalanan aspal.

Aku merasakan tubuhku melayang dan tiba-tiba hanya gelap. Gelap tak ada setitikpun cahaya yang terlihat. Aku nggak tahu tempat apa itu.

Ku buka kedua kelopak mataku, dan aku melihat Mama tertidur di sofa. Tapi aku yakin, ini bukan ruang tidurku. Aku merasakan kepalaku pusing dan semua tubuhku sakit. Lalu ku coba mengingat-ingat kembali apa yang terjadi, tapi semuanya nihil. Yang aku ingat hanya bayangan hitam. Semakin aku berusaha mengingat, semakin pusing yang ku rasakan.

“Kamu sudah sadar sayang?” kata Mama. Dengan cepat Mama menghampiri ranjangku.

“Ma, aku haus.” kataku lirih. Ku lihat Mama meneteskan air mata.

“Kamu belum boleh minum sayang.” sambil membelai rambutku. “Bentar ya sayang Mama panggil dokter dulu.”

Tak lama dokterpun datang dan memeriksa keadaanku. Setelah itu Mama tampak serius berbincang-bincang dengan dokter. Dan seketika aku teringat sosok Yudhis. Yaa, , Yudhis. Dia sekarang dimana?? Aku kembali teringat kejadian terakhir bersama Yudhis.

“Maaaa. . .Mamaaaa. .Yudhis dimana Maaa?Yudhis dimanaaa?” aku berteriak dengan sisa tenagaku. Aku merasakan tubuhku menjadi lemas-mungkin pengaruh dari suntikan tadi-. Aku mencoba untuk bangun, tapi sesegera Mama menahanku.

“Tenang sayang. .” menenangkan diriku. Mama menangis. . .

“Tapi mana Yudhis Ma? Maaa. .naaa. .?” suaraku mulai menghilang perlahan dengan di iringi menutupnya mataku kerena merasakan tubuhku melemas.

* * *

Ku letakkan beberapa tangkai mawar putih di atas batu nisan Yudhis. Aku duduk di sisi nisan Yudhis. Ku tertunduk dan tak mengeluarkan suara. Tapi hanya saja air mata ini terus keluar dan tak dapat di tahan.

“Aku sayang kamu Yudhis. Aku sayang kamu.” ucapku lirih.

“Udah?” tanya Apby hati-hati.

Aku mendongakkan kepala dan melihat sosok pria yang duduk di sampingku.

“Yuk, pulang.” ajakku dengan kedua mata masih berkabut.

Aku bangkit berdiri. Apby dengan lembut mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Aku yakin Yudhis pasti tenang di alam sana, melihat sudah ada yang menggantikan posisinya untuk menjagaku.

Ku tinggalkan nisan itu yang penuh kenangan di dalamnya.

Terima kasih Yudhis. Terima kasih cinta. . . .