Senin, 30 Desember 2013

" cabe - cabean "

Apa itu "Cabe-cabean?"

menurut gue jaman udah makin kacau aja yah, gue gak ngerti ? jangan tanya gue oke. sebelum ke cabe cabean gue pengen kasih tau dulu ke lo semua, sebelum kata cabe cabean ini fenomenal udah pernah ada yang fenomenal duluan kalian tau apa " ALAY "waktu gua SD belum ada nih kata kata ALAY , gak ada , jaman jaman gua SMA aja baru muncul kata alay , gue gak tau siapa yang mencetuskan kata ALAY pertama kali , sampe bumingnya keteraluan gitu . gak tau gue siapa pencetus alay pertama kali. jadi kalian gak usah tanya gue.
sesudah kata alay, jaman sekarang banget ini, di masa perkuliahan gue, gue diperkenalkan dengan kata " CABE CABEAN " beuuhhh akhir akhir lagi heboh banget sama kata " cabe cabean " , sumpah gue gak ngerti banget apa itu maksud dari kata cabe cabean . why cabe ? kenapa gak terong terongan, timun timunan, lengkoas lengkoasan, KENAPA HARUS CABE ??KENAPA ??

jadi gini awal mula pertama gue denger kata "cabe cabean" itu di kelas, waktu gue lagi kuliah, waktu temen gue ka anis nyeplos gitu " ahh lu jangan pada kayak cabe cabean dah", gue bingung dong, gue bukan anak gaul yang tau semua kostak kata atau artian artian gue ini cupu, you know ? , ya otomatis gue langsung tanya " hahaha cabe cabean apa'an si ka ?" dia cuma nyengir, ya karna menurut gue kata cabe cabean itu gak penting untuk gue tau artinya, yaudah gue abaikan, tapi keesokan harinya kata " cabe cabean " diucapkan lagi dan lagi, itu ngebuat gue semakin kepo apa'an si cabe cabean ?? akhirnya gue nanya ama temen sekelas gue yang gaulnya bagus ketimbang gue sebut saja putri .
" put, cabe cabean apa'an si ? "
" itu loh jeng anak anak cewe genit jaman sekarang "
langsung aja gue " oohhhh cewe genit, yaelah dasar cabe cabean"

semenjak itu hari gue berubah, gue jadi lebih dermawan karna tiap hari gue #prayforcabecabean << hesteknya @young_lexx :)) ditambah lagi setiap hari gue makin kepo sama anak cabe cabean. anak twitter pun sering menyebut kata " hahaha kayak cabe cabean jaman sekarang luh " atau seperti twitt dibawah pict ini :


akhirnya gue menemukan pencerahan gue di pertemukan dengan videonya bang @Young_Lexx di youtube , asli gua ngakak liatnya . sekarang gue ngerti cabe cabean itu yang kayak gimana.

|| dari tadi ngomongin kata cabe cabean mulu, jadi sebenernya cabe cabean itu kayak gimana si jeng ??? ||

iya santai dong ini baru mau gue bahas. gue ngereview lah yah bisa dibilang dari videonya bang @Young_Lexx , disini akan gue jelasin 5 kategori cabe cabean . langsung aja cekidottt>>>>


1. biasanya cabe cabean itu cewek pake BEHEL
gue gak tau yah behel ini kan udah tenar dari gue masih duduk di bangku SMA kelas 2, sekarang gue udah kuliah walaupun baru semester 1 , fenomena behel masih saja di sangkut sangkutkan, dulu katanya " yang pake behel ALAY ", berrevormasi menjadi " yang pake behel GAUL " eh sekarang " yang pake BEHEL cabe cabean " , iya si emang pake behel mending kenapa gitu giginya. ya ini CUMA BUAT GAYA DOANG, mana pasang behelnya bukan di dokter gigi, malah sangkin ngebetnya dia beli behel yang 35 50 han. jadi gue SETUJU aja cewek pake behel buat gaya gayaan masuk ke kategori pertama cabe cabean.

2. biasanya cabe cabean itu kalo malem minggu make up, udah make up abis abisan ujung ujungnya BELI BUBLE , haduh pliss deh beli buble aja pake make up , orang mah kalo pake make up mau ke kondangan, moll.  haduh plis deh kalo mau beli buble itu gak usah pake make up, kalo beli buble aja pake make up itu FIX FIX FIX cabe cabean.

3. biasanya cabe cabean itu BONCENG 3, celana pendek ( celama gemes ) , malah pernah gue liat bonceng 4 dempet dempetan kaya rantang, eh tapi bentar DULU yah DULU banget sebelum ada kata ALAY sama CABE CABEAN gue sering loh bonceng 4 kalo mau silatuhrami kerumah sodara-sodara gue selalu ceng'4 : bokap gue, nyokap gue, adek gue, dan gue . sorry bro dulu gue belom punya mobil jadi kendaraan paling berkeluarga yaitu motor dan DULUnya gue belom bisa naek motor, jadi FIX kalo itu bukan termasuk cabe cabean . lo tau lah yang dimaksud cabe cabean bonceng 3 itu gimana. 

4. cabe cabean biasanya kalo malam minggu pacaran di jembatan flay over men , itu parah, gue gak ngerti kenapa mereka pacaran di atas gembatan gitu, padahal kan mereka pacaran bisa , nonton bioskop, makan , maen bowling, maen timezone .gue gak ngerti kenapa mereka pacaran di jembatan kayak gitu antara gak punya duit atau irit atau apalah gue gak tau. 
gini nih cabe cabean :))

5. cabe cabean itu gak terima keadaan , dan semua berubah semenjak adanya kamera 360 , pertemanan jadi rusak , misal lo temenan gitu yah di facebook atau di twitter atau di sosial media lainnya, avatarnya cakep gilak, kecee gilak eh pas ketemuan lo dapet ZONK , jadi itu semacam penipuan , penipuan foto, kata bang yonglex juga seharus itu di masukan ke pasal penipuan foto . itu parah, pertemanan jadi rusak kacau balau.  semua menjadi indah karena efek kamera 360 .

oke segitu dulu pembahasan gue tentang cabe cabean, udah pada ngertikan cabe cabean itu yang kayak gimana , dan kategorinya kayak apa.OKE segitu aja kategori kategori cabe cabean, karna gue takut blog gue kepanjangan jadi nantinya takut gak bisa di publish :D sebenernya ada 10 yah kategori cabe cabean ala bang yong lexx itu , kalo kalian mau liat lebih jelasnya bisa tonton video di bawah ini. ini videonya bang @young_lexx yang ngebahas tentang cabe cabean seperti yang gue bilang diatas . oke sekian terimakasih :3



Jumat, 29 November 2013

Lo Siaw Ging: Dokter Tanpa Tarif

Dokter Lo (Foto: Solografi.com)
Dokter Lo (Foto: Solografi.com)
Nama lengkapnya Lo Siaw Ging, namun ia lebih dikenal dengan panggilan dokter Lo. Di Solo, Jawa Tengah, dokter keturunan Tionghoa berusia 78 tahun ini populer bukan hanya karena diagnosa dan obat yang diberikannya selalu tepat, tapi juga karena ia tidak pernah meminta bayaran dari pasiennya.
Setiap hari, kecuali Minggu, puluhan pasien antre di ruang tunggu prakteknya. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai tukang becak, pedagang kaki lima, buruh pabrik, karyawan swasta, pegawai negeri, hingga pengusaha. Pasiennya tidak hanya datang dari Solo, tetapi juga kota-kota di sekitarnya, seperti Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, Boyolali, Klaten, dan Wonogiri.
Dokter Lo menjadi istimewa karena tidak pernah memasang tarif. Ia juga tak pernah membedakan pasien kaya dan miskin. Ia justru marah jika ada pasien yang menanyakan ongkos periksa padahal ia tidak punya uang. Bahkan, selain membebaskan biaya periksa, tak jarang Lo juga membantu pasien yang tidak mampu menebus resep. Ia akan menuliskan resep dan meminta pasien mengambil obat ke apotek tanpa harus membayar. Pada setiap akhir bulan, pihak apotek yang akan menagih harga obat kepada sang dokter.
Perlakuan ini bukan hanya untuk pasien yang periksa di tempat prakteknya, tapi juga untuk pasien-pasien rawat inap di rumah sakit tempatnya bekerja, RS Kasih Ibu. Alhasil, Lo harus membayar tagihan resep antara Rp 8 juta hingga Rp 10 juta setiap bulan. Jika biaya perawatan pasien cukup besar, misalnya, harus menjalani operasi, Lo tidak menyerah. Ia akan turun sendiri untuk mencari donatur. Bukan sembarang donatur, sebab hanya donatur yang bersedia tidak disebutkan namanya yang akan didatangi Lo.
“Beruntung masih banyak yang percaya dengan saya, ” kata dia.
Di mata pasien tidak mampu, Lo memang bagaikan malaikat penolong. Ia  menjungkirbalikan logika tentang biaya kesehatan yang selama ini sering tak terjangkau oleh pasien miskin. Apa yang dilakukan Lo juga seperti membantah idiom “orang miskin dilarang sakit”.
“Saya tahu pasien mana yang mampu membayar dan tidak.  Untuk apa mereka membayar ongkos dokter dan obat kalau setelah itu tidak bisa membeli beras? Kasihan kalau anak-anaknya tidak bisa makan, ” kata dia.
Gaya bicaranya tegas cenderung galak. Tidak jarang ia memarahi pasien yang menganggap enteng penyakit. Ia bercerita pernah benar-benar sangat marah kepada seorang ibu karena baru membawa anaknya ke ruang prakteknya setelah mengalami panas tinggi selama empat hari.
“Sampai sekarang masih banyak orang yang bersikap seperti itu. Memangnya penyakit itu bisa sembuh dengan sendirinya. Kalau sakit ya harus segera dibawa ke dokter. Jangan melakukan diagnosa sendiri, ” ujar anak ke 3 dari 5 bersaudara itu.
Toh meski galak, Lo tetap dicintai. Ia menjadi rujukan berobat terutama bagi mereka yang tidak  mampu. Namun dokter lulusan Universitas Airlangga Surabaya ini merasa apa yang ia lakukan bukan sesuatu yang luar biasa dan tidak perlu dibesar-besarkan.
“Tugas dokter itu menolong pasiennya agar sehat kembali. Apa pun caranya. Saya hanya membantu mereka yang membutuhkan pertolongan dokter. Tidak ada yang istimewa, ” ujar dokter yang buka praktek di rumahnya, Kampung Jagalan, Jebres, Solo.
Dokter Sederhana
Lahir di Magelang, 16 Agustus 1934, Lo tumbuh dalam sebuah keluarga pengusaha tembakau yang moderat. Orang tuanya, Lo Ban Tjiang dan Liem Hwat Nio, memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih apa yang dinginkan. Salah satunya adalah ketika Lo ingin melanjutkan SMA ke Semarang, karena dia menganggap tidak ada SMA yang kualitasnya bagus di Magelang ketika itu.
Setamat SMA, Lo menyatakan keinginannya untuk kuliah di kedokteran. Ketika itu, ayahnya hanya berpesan jika ingin menjadi dokter jangan berdagang. Sebaliknya jika ingin berdagang, jangan menjadi dokter. Rupanya, nasehat itu sangat membekas di hati Lo. Maksud nasehat itu, menurut Lo, seorang dokter tidak boleh mengejar materi semata karena tugas dokter adalah membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Kalau hanya ingin mengejar keuntungan, lebih baik menjadi pedagang. .
”Jadi siapa pun pasien yang datang ke sini, miskin atau kaya, saya harus melayani dengan baik. Membantu membantu orang itu tidak boleh membeda-bedakan. Semuanya harus dilakukan dengan ikhlas. Profesi dokter itu menolong orang sakit, bukan menjual obat, ” ujar suami dari Gan May Kwee ini.
Menjadi dokter sejak 1963, Lo mengawali karir dokternya di poliklinik Tsi Sheng Yuan milik Dr Oen Boen Ing (1903-1982), seorang dokter legendaris di Solo. Pada masa orde baru, poliklinik ini berkembang menjadi RS Panti Kosala, dan kini berganti nama menjadi RS Dr Oen.
Selain dari ayahnya, Lo mengaku banyak belajar dari Dr Oen. Selama 15 tahun bekerja pada seniornya itu, Lo mengerti benar bagaimana seharusnya menjadi seorang dokter.
”Dia tidak hanya pintar mengobati, tetapi juga sederhana dan jiwa sosialnya luar biasa, ” kata mantan Direktur Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo.
Apa yang dikatakan Lo tentang membantu siapa pun yang membutuhkan itu bukanlah omong kosong. Ketika terjadi kerusuhan Mei 1998 lalu misalnya, Lo tetap buka praktek. Padahal para tetangganya meminta agar dia tutup karena situasi berbahaya, terutama bagi warga keturunan Tionghoa. Namun, Lo tetap menerima pasien yang datang. Para tetangga yang khawatir akhirnya beramai-ramai menjaga rumah Lo.
“Banyak yang butuh pertolongan, termasuk korban kerusuhan, masak saya tolak. Kalau semua dokter tutup siapa yang akan menolong mereka?” kata Lo yang juga lulusan Managemen Administrasi Rumah Sakit (MARS) dari Universitas Indonesia.
Hingga kerusuhan berakhir dan situasi kembali aman, rumah Lo tidak pernah tersentuh oleh para perusuh. Padahal rumah-rumah di sekitarnya banyak yang dijarah dan dibakar.
Kini, meski usianya sudah hampir 80 tahun, Lo tidak mengurangi waktunya untuk tetap melayani pasien. Setiap hari, mulai pukul 06. . 00 sampai 08. 00, dia praktek di rumahnya. Selanjutnya, pukul 09. 00 hingga pukul 14. 00, Lo menemui para pasiennya di RS Kasih Ibu. Setelah istirahat dua jam, ia kembali buka praktek di rumahnya sampai pukul 20. 00.
“Selama saya masih kuat, saya belum akan pensiun. Menjadi dokter itu baru pensiun kalau sudah tidak bisa apa-apa. Kepuasan bagi saya bisa membantu sesama, dan itu tidak bisa dibayar dengan uang, ” ujar dokter yang sejak beberapa tahun lalu berjalan dengan bantuan tongkat ini.
Menurut Lo, istrinya memiliki peran besar terhadap apa yang ia lakukan. Tanpa perempuan itu, kata Lo, ia tidak akan bisa melakukan semuanya.
“Dia perempuan luar biasa. Saya beruntung menjadi suaminya, ” ujar Lo tentang perempuan yang ia nikahi tahun 1968 itu.
Puluhan tahun menjadi dokter, dan bahkan pernah menjadi direktur sebuah rumah sakit besar, kehidupan Lo tetap sederhana. Bersama istrinya, ia tinggal di rumah tua yang relatif tidak berubah sejak awal dibangun, kecuali hanya diperbarui catnya. Bukan rumah yang megah dan bertingkat seperti umumnya rumah dokter.
“Rumah ini sudah cukup besar untuk kami berdua. Kalau ada penghasilan lebih, biarlah itu untuk mereka yang membutuhkan. Kebutuhan kami hanya makan. Bisa sehat sampai usia seperti sekarang ini saja, saya sudah sangat bersyukur. Semakin panjang usia, semakin banyak kesempatan kita untuk membantu orang lain, ” kata Lo yang selama 43 tahun perikahannya dengan Gan May Kwee tidak dikaruniai anak.
Di tengah biaya obat-obatan yang mahal, pelayanan rumah sakit yang sering menjengkelkan,  dan dokter yang lebih sering mengutamakan materi, keberadaan Lo memang seperti embun yang menyejukkan. Rasanya, sekarang ini tidak banyak dokter seperti Dr Lo.
Menengok sejarah Solo, yang dalam perjalanan waktu penuh intrik, peperangan dan kerusuhan, Dr Lo bagaikan oase di tengah gurun  nan gersang, (Ganug Nugroho Adi)