Senin, 28 November 2011

Aku Tumbuh Sebagai Gadis Pendiam

Lebih suka diam di banding dengan banyak omong itulah aku. Tumbuh di lingkungan keluarga yang sempurna, semua serba bercukupan, ada Ibu, Ayah dan seorang adik perempuan itu semua adalah hadiah terindah yang pernah aku dapat dan hadiah terhebat yang pernah aku punya.

Tepat saat usiaku menginjak angka 5 dan memulai dunia pendidikanku dengan bersekolah TK, yang hanya cukup duduk di bangku taman kanak-kanak selama 1 tahun.  Karena, mungkin aku sudah dianggap layak untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu Sekolah Dasar.

Masa kanakku seperti halnya dengan anak-anak seusiaku. Hanya bermain, bermain dan bermain. Dan di saat anak-anak, aku terbilang cukup mempunyai banyak teman di lingkungan rumahku. Karena pada saat itu, di daerah rumahku, anak yang kurang lebih seusiaku cukup banyak, dan mereka juga sangat senang bermain, seperti aku. Aku terbilang anak yang cukup aktif, mungkin karena terlalu aktif aku  harus sempat merelakan tangan kiriku patah. Dan itu rasanya tidak cukup sakit, hanya saja waktu penyembuhannya yang sangat teramat sakit.

Sewaktu duduk di bangku Sekolah Dasar, aku juga bukan termasuk gadis yang pendiam ataupun gadis yang hiperaktif. Mungkin aku di antaranya. Aku termasuk murid yang cukup rajin, aku tahu cara membagi ekspresi, waktu serius aku pun juga serius, dan waktu santai aku pun juga bisa santai. Seiring dengan waktu, aku tumbuh sebagai gadis kecil Mamaku yang lucu dan manis (mungkin). Prestasiku termasuk baik, dan tidak mengecewakan. Hanya saja, semakin aku tumbuh, jiwa pendiamku mulai muncul dan menampakan diri. It was so bad and I didn’t like it.

Aku telah menamatkan bangku Sekolah Dasarku dengan nilai yang sangat memuaskan. Dan melanjutkan pendidikanku dibangku Sekolah Menengah Pertama, inilah awal ceritaku menjadi seorang gadis pendiam. Sebenarnya, tak ada faktor khusus yang menuntutku menjadi gadis yang pendiam. Hanya saja, kalau nggak salah ingat, aku diam pada saat aku tak mengenal sekelilingku dan pada saat aku tak tahu harus berbicara apa untuk memulai sebuah pembicaraan. Mungkin hal yang paling tidak ku sukai adalah SKSD terhadap orang baru. Dan mungkin sifatku yang teramat cuek pada sekelilingku.  Mulai situ penyakit pendiamku semakin tumbuh berkembang, hahahaha.  Meskipun aku membencinya, tapi aku menikmatnya.

Aku hanya dapat berbagi kecerewetanku dan perhatianku terhadap teman yang cukup dekat mengenalku. Aku termasuk anak yang fleksibel, bisa berteman dengan siapa saja yang ingin berteman denganku, tentu saja. Bila sedang bersama teman-teman dekatku, aku bisa lebih ekspresif dan menjadi anak yang hiperaktif (terkadang). Bahkan, aku dapat menghidupkan suasana dengan semua ocehanku, kalau saja mood ku saat sedang bersahabat.

Dan sifatku yang seperti itu berlanjut ke jenjang aku memasuki dunia perkuliahan. Hanya bisa membagi candaan bersama teman yang ku kenal dekat. Bukan teman yang sekedar kenal, yang hanya tau nama tanpa interaksi yang intensif. Mungkin orang yang belum mengenalku dengan baik, aku sangat terlihat sombong, judes, nggak mau bergaul dan anak yang amat pendiam. Tapi itu akan berkebalikan 180 derajat jika sudah mengenalku dengan baik.

Namun, di lingkungan keluarga besar, aku termasuk cucu, keponakan, anak, dan sepupu yang pendiam. Anak yang nggak bisa ngomong untuk mengeluarkan pendapat, ya bisa dibilang anak untul bawang. Anak yang tak banyak ngomong, jika nggak ditanya terlebih dulu. Tak banyak protes jika benar-benar tidak kepepet. Anak yang tak banyak tingkah. Hingga kakak sepupuku menjuluki aku, undlap-undlup. Benar-benar anak yang belum terkontaminasi dunia luar yang begitu mengerikan. Dunia pergaulan anak sekarang yang sangat memprihatinkan.

Mungkin, jika aku dibandingkan dengan anak SMP atau SMA jaman sekarang, aku teramat jauh tertinggal dalam pergaulan. Aku akan dikatakan sebagai anak UDIK. That’s no matter for me, but I love my way, my style and my identity. Intinya, I’m so proud of who I am.

0 komentar:

Posting Komentar