Sabtu, 24 November 2012

Bidadari Hujan

 Hujan pun mengiringi kepergiannya. Semua orang yang sayang dia, pasti tahu betapa cintanya dia terhadap sang hujan. Dia sering menari-nari di bawah hujan. Tapi kini dia tak bisa menari-nari seperti biasa, karena dia diam tak bergerak di dalam sana. Dan hanya tinggal aku di sini di temani sang hujan yang menghapus tangisku yang tak tertera.
   * * *
                Ini tahun ke dua ku bersama dia, dan tepat hari ini pula tanggal yang sama di bulan yang sama 2 tahun silam kita berjanji untuk mengikat satu sama lain dalam sebuah ikatan “pacaran”. Duduk berdua di teras, memandangi air hujan yang menari dengan anggunnya.
“Nggak terasa hari ini datang lagi ya.” katanya padaku.
“Datang lagi? Emang ada apaan sih?” aku pura-pura nggak tahu.
            Dengan memasang wajah cemberutnya yang khas, “Masak kamu nggak inget moment penting di hari ini?” Dan aku pun masih pura-pura berpikir.
“Ah aku sebel, pokoknya aku benci kamu!” tandasnya, memalingkan muka.
“Ih, si cantikku ngambek ya, kalau ngambek gitu tambah cantik deh.” rayuku. Tetap tak ada respon. “Ya udah, aku minta maaf ya? Aku inget kok, hari ini hari apa, makanya aku membawa ini." Sambil mengeluarkan kotak kecil berwarna merah hati kesukaan dia.
“Coba liat sini dong. Jangan cemberut mulu napa. Kalo nggak mau liat sini, ya udah deh hadiahnya nggak jadi buat kamu.” Godaku
Akhirnya dia membalikkan wajahnya dan menatapku dengan tatapan tak percaya. Melihat kotak dan melihat wajahku bergantian dengan mata yang berkaca-kaca.
“Apa ini yam?” tanyanya.
Iya, “yam” adalah panggilan sayangnya ke aku katanya sih. Dia lebih suka memanggilku demikian daripada memanggil namaku atau memanggil dengan istilah sayang atau apalah. Karena baginya kata “yam” itu selain simple juga mempunyai arti khusus, yaitu “You And Me” atau “You Are Mine”. Romantis yaa?
Membuka kotak dengan posisi jongkok di depannya dengan satu kaki di tekuk di tanah, aku beranikan diri untuk berkata, “Maukah kamu hidup bersamaku?” kutatap matanya dengan penuh keyakinan. Kulihat pipinya yang bersemu merah dan senyumnya yang menawan.
Ku ulangi perkataanku, “Maukah kamu hidup bersamaku dalam suka maupun duka?”
Dengan malu-malu dia menganggukan kepala dan itu pertanda bahwa dia menerima lamaranku.
“Makasih ya sayang.” Ku cium keningnya lalu mengenakkan cincin pemberianku di jari manisnya.
* * *
Langit nampak redup, tidak cerah. Mungkinkah sedang murung?
“Ah nggak sabar nih, masih 2 hari lagi.” Kataku.
“Yam. . . . .”
“Iya, ada apa cantikku? Kamu sakit?” tanyaku penasaran.
“Eh nggak jadi deng.” Masih menggantung. “Tapi, ehmmm, kamu mau nggak nurutin permintaanku sebelum acara pertunanganku besok lusa?” tanyanya hati-hati.
“Apa itu sayang? Apapun yang kamu minta, aku akan turuti. Janji deh.” Sambil menggenggam tangannya.
“Apapun itu?”
“Ya, apapun.” Tegasku. “Selama aku bisa mengabulkannya.” Tambahku
“Aku ingin tahu, apakah kau tulus sama aku atau tidak . . . .”
“Jadi kamu meragukanku?” memotong perkataannya.
“Enggg . . .gak gitu yam. Cuma saja aku ingin lebih meyakinkan diriku kalau kamu benar-benar cinta dan sayang sama aku.” Katanya hati-hati.
“Baiklah kalau gitu. Percaya sama aku ya cantikku. Kalau gitu coba apa permintaanmu?”
“Aku cuma minta, besok sehari penuh kita nggak komunikasian dulu. Kita nggak SMS-an, kita nggak telepon-teleponan, ataupun kamu nggak boleh datang kerumahku. Gimana, sanggupkan kamu?” tanyanya.
“Kalau itu sih kecil sayang. Aku pasti sanggup kok.” Kukedipkan sebelah mataku dengan genit pertanda setuju.
Tiba-tiba langitpun tak sanggup menampung air yang dari tadi bersembunyi dibalik awan hitam pekat dan menumpahkannya. Seketika dia berlari menuju halaman rumahnya, untuk bermain bersama rintikan hujan, menari. Dan ku lihat senyuman dia yang sangat menawan lebih dari biasanya. Aneh pertanda apakah ini. Padahal, dia juga sering melakukan hal yang sama. Aku tahu dia sangat menggilai hujan. Katanya air hujan itu dapat membuat perasaannya jadi senang, nyaman, dan hangat. Aneh sih, tapi itulah si cantik bidadari hujanku.
* * *
Aku hampir gila. Mungkin tinggal 20% kewarasanku sekarang. Padahal ini baru 12jam aku melakukan tantangannya tanpa komunikasi. No SMS. No telepon. Bahkan bertemupun nggak bisa. Aahhhh, perderitaan apa ini. Uring-uringan sendiri dikamar memang persis membuatku nampak seperti orang gila. Penyakit malarinduku menggerogoti saat ini. Hanya dapat menatap fotonya. Dia tersenyum manis di dalam foto itu. Menari bersama rintikan hujan. Ya, saat itu gerimis di kala senja ketika mengambil foto itu.
“Ah dasar, si cantikku si bidadari hujanku, kau membuatku gila sekarang, betapa aku sangat merindukanmu.” Berbicara dengan sosok yang ada di dalam foto.
“Mungkin kamu sekarang sedang sibuk mempersiapkan pertunangan kita besok kan?” Mungkin aku sudah gila beneran nih. “Aku pasti bisa melewati 24 jam ini. Tunggu aku ya cantik.”
  * * *
“Akhirnya hari ini telah datang juga.” Kataku pada matahari pagi. “Siap-siap untuk bertemu si bidadari hujanku.”
Selesai mandi, tiba-tiba, dok . . . dok . . . dok . . .
                “Siapa?” tanyaku.
                “Ini Ibu nak. Ibu boleh masuk?”
                “Iya bu, masuk aja. Pintunya nggak kekunci kok.” Kataku sambil berpose didepan kaca.
                “Nak, kamu nggak papa kan? Mungkin memang ini sudah jalannya.” Isak Ibu didepanku.
                Hah? Ada apa sih ini. Kok Ibu nangis di depanku. Emang ada apa. Aku masih belum jelas. Bingung. Kaget. Campur aduk jadi satu.
  * * *
                Ini lah rumah yang selama ini selalu ku kunjungi. Tetapi ada sesuatu hal yang berbeda dari biasanya. Tak ada teriakan ceria memanggil namaku dari seorang gadis cantik untuk menyambutku ketika aku datang. Seharusnya, hari ini semua orang bahagia di sini. Tapi mengapa sekarang orang berduka disini? Ku beranikan diri untuk memasuki pintu itu. Pintu jawaban. Pintu yang memberikan jawaban yang mungkin akan menyakitkan hati. Jawaban yang sangat ingin aku menyangkalnya.
                Ku lihat sebuah peti di tengah-tengah orang yang berduka. Seakan-akan peti tersebut menjadi titik porosnya. Sebuah peti yang membuat orang terhipnotis untuk mengelilinganya. Sebuah peti yang berisi, entahlah, aku tak ingin membayangkannya. Kepalaku terasa berat dan pening. Seakan tak sanggup lagi menyaksikan adegan yang sangat menyakitkan. Kaki ini tiba-tiba lemas. Seakan egan diajak untuk menyaksikan isi peti itu. Semua melihatku dengan tampang yang menandakan mereka semua kasihan terhadapku. Seketika aku berharap, ada yang membuatku menghilang dari tempat itu juga.
                Sungguh, aku tak mau melihat si bidadari hujanku terbaring diam membeku tak bergarak di dalam peti itu. Aku tak ingin melihat wajah cantiknya karena aku tak ingin dia melihat wajahku yang menyedihkan ini.
                Tiba-tiba seseorang wanita setengah baya menghampiriku. Ya, ini dia sang ratu bidadari hujan yang telah melahirkan bidadari hujanku. Wajahnya tak kalah menyedihkan sama sepertiku. Terlihat sangat terpukul. Bahkan lebih terpukul.
                “Nak Rony, yang sabar yaa. Ibu menemukan ini  di kamar Hujan, mungkin ini buatmu nak.” Katanya lirih, terdengar rasa terpukul yang amat dalam.
                “Iya bu, terima kasih.” Balasku.
* * *
                Kepergiannyapun di iringi hujan. Seperti namanya “Bidadari Hujan” yang tertulis di papan nisan. Sepertinya hujan pun ikut merasa kehilangan sang bidadarinya sepertiku yang kehilangan sang bidadari hujanku. Ku baca secarik kertas yang di berikan Ibunya.

                                Dear Rony Dewanto . .
                                Kamu telah berhasil YAM untuk melewati tantangannya.
                                Bisakah kamu melakukannya setiap hari?
                                I LOVE YOU
                                                                                                Your lovely
                                                                                                Bidadari Hujan

with love
hanna

0 komentar:

Posting Komentar